Virus Corona

Harga Properti Melambat, Penjualan Mulai Anjlok 43 Persen, 30 Juta Pekerja Berpotensi Kena PHK

Pandemi Corona mendera berbagai negara, tidak kecuali negara Indonesia, beberapa provinsinya mengalami wabah covid-19.

Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO
ILUSTRASI - Penggarapan proyek properti perumahan di Pesona Bukit Batuah Kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur pada Kamis (20/7/2017) siang. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Pandemi Corona mendera berbagai negara, tidak kecuali negara Indonesia, beberapa provinsinya mengalami wabah covid-19. 

Kedatangan pandemi Corona bukan saja mempengaruhi sisi kesehatan dan ancaman nyawa seseorang, akan tetapi juga berimbas ke sektor sosial ekonomi masyarakatnya. 

Satu di antaranya, sisi ekonomi dunia properti. Kalangan pengusaha merasakan berat untuk menjalankan roda bisnisnya di bidang properti kala wabah covid-19 ini. 

Kamar Dagang dan Industri ( Kadin ) Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo ), dan Realestat Indonesia (REI) melakukan kajian bersama untuk mengoptimalkan sektor properti sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Pasutri Meninggal Dunia Terpapar Virus Corona, 30 Pedagang yang Sempat Kontak Dilakukan Uji Swab 

Baca Juga: Warga Usia Dibawah 45 Tahun Dilonggarkan dalam PSBB, Kurangi Dampak PHK Kala Pandemi Corona

Menurut mereka, industri properti Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk berkembang jika diberikan porsi yang seimbang oleh pemerintah.

Porsi seimbang yang dimaksud oleh Kadin, Apindo dan REI adalah kebijakan yang terintegrasi untuk pendanaan, perijinan dan pertanahan, perpajakan, kepemilikan properti, dan lain sebagainya.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti, Hendro Gondokusumo mengatakan kedudukan sektor properti yang berkaitan erat dengan sektor lain (backward linkage) dan mempengaruhi pertumbuhan sektor lain (forward linkage), menjadikan sektor properti memiliki peran sentral pada pembangunan.

 “Dari 175 sektor industri yang bergerak dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan sektor properti, industri properti memiliki pangsa jumlah permintaan akhir 33,9 persen sehingga ini yang menjadikan industri properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Hendro dalam konferensi pers virtual, Kamis (14/5/2020).

Menurutnya, angka itu menunjukkan multiplier effect yang tinggi di mana jika sektor properti meningkat akan memiliki dampak langsung pada 33,9 persen sektor yang berkaitan.

"Kami harapkan ke depan sektor ini mendapat perhatian lebih, apalagi berkaitan langsung tidak hanya dengan karyawan saja, tetapi dampaknya juga langsung bersentuhan dengan rakyat terutama kaitannya dengan perumahan,” ucap Hendro.

Hendro juga mengatakan, dalam situasi sekarang ini pergerakan sektor properti dalam negeri harus dioptimalkan di masa krisis covid-19.

“Sekarang saatnya untuk memaksimalkan potensi lokal. Industri properti Indonesia itu 90 persen kandungannya adalah lokal, bahkan 100 persen untuk rumah sederhana. Ini sangat strategis untuk menggerakkan perekonomian kita,” tegasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved