Breaking News:

Kisah Haru Perawat di Bontang Tangani Pasien Covid-19, Dua Bulan tak Bisa Peluk dan Cium Anak Istri

Perawat dan tim medis menjadi pejuang garda depan dalam upaya penanggulangan pandemi Virus Corona (covid-19).

TRIBUNKALTIM.CO/M FACHRI RAMADHANI
Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bontang, Surya Wijaya usai menyampaikan curahan hatinya di hadapan Walikota Bontang, Neni Moerniaeni di Pendopo Rujab Walikota. 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG- Perawat dan tim medis menjadi pejuang garda depan dalam upaya penanggulangan pandemi Virus Corona ( covid-19 ).

"Kami bersedia berpisah dengan keluarga untuk menjalankan tugas ini," tutur Surya Wijaya, salah seorang perawat Bontang yang bertugas dalam Tim Penanganan Covid-19 di hadapan Walikota Bontang, Neni Moerniaeni.

Pada 20 Maret 2020 lalu jadi hari terakhir, ia bertemu secara langsung dengan keluarga.

Tim medis wajib melakukan karantina khusus sesuai protap Kemenkes RI lantaran kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif covid-19 setiap hari.

Jika dihitung sudah 2 bulan ini, ia terpisah dengan keluarga. Tak sekali pun, ia menginjakkan kaki pulang ke rumah, semenjak ada pasien yang diduga terpapar covid-19 di RSUD Bontang.

Sidang Kasus Korupsi Mantan Kadis Pasar Samarinda Sulaiman Sade Ditunda Hingga Usai Lebaran

Pandemi membuat jarak yang tak bisa dielakkan para tenaga medis Bontang.

"Dua bulan nggak ketemu keluarga," ujarnya yang juga Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bontang.

Ia mengaku masih beruntung orang-orang yang hanya dianjurkan di rumah saja selama pandemi ini melanda.

Mereka masih bisa bertatap muka dengan istri, anak dan orang tua di rumah, berbagi kasih, tawa dan canda.

Sementara tenaga medis yang berjuang menyembuhkan pasien hanya mengandalkan video call saat rasa kangen menyerang tiba-tiba.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Rahmad Taufiq
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved