Lebaran Bersama Covid-19, Optimisme Umat Islam

LEBARAN sudah semakin dekat. Terasa agak berbeda dengan hari raya sebelumnya, mungkin. Salat Idul Fitri cukup dilaksanakan di rumah saja. Pemerintah b

ist
Lebaran Bersama Covid-19, Optimisme Umat Islam 

LEBARAN sudah semakin dekat. Terasa agak berbeda dengan hari raya sebelumnya, mungkin. Salat Idul Fitri cukup dilaksanakan di rumah saja. Pemerintah baru saja memutuskan itu, entah sifatnya wajib dan mengikat, atau hanya anjuran dan tidak tidak diharuskan, gema suara takbir tidak seramai hari raya seperti biasanya, bisa jadi.

Mudik rupanya juga dibatasi ruang geraknya. Entah istilahnya mudik atau pulang kampung, intinya ruang gerak silaturrahmi mengunjungi sanak keluarga dibatasi. Dari sini sudah bisa kita lihat suasana yang berbeda dengan hari raya Idul Fitri seperti biasa kita jalankan.

Melihat perubahan yang cukup signifikan ini, menarik rupanya kita pikir kembali hakikat Islam secara esensial dan seradikal mungkin untuk melihat keutuhan Islam itu sendiri. Meski dihantam wabah penyakit seperti sekarang ini, sebagai bahan refleksi sekaligus evaluasi bahkan mungkin revolusi dalam upaya optimistis menyambut hari raya besar Islam di tengah wabah Covid-19 yang cukup lama melanda dan sedikit meresahkan baik kiranya kita lakukan refleksi semacam itu.

Islam sebagai agama pembawa aroma kesegaran dan kesejahteraan bagi pemeluknya tidak pernah kehilangan cara memberikan aroma segarnya itu dalam kondisi apapun. Ada banyak contoh spektrum yang bisa kita jadikan landasan acuan bahwa Islam bukanlah agama yang bisa dikekang oleh ruang dan waktu.

Dalam kasus fiqh misalnya, ada sebuah kaidah filosofis dalam fiqh yang kemudian dikenal dengan istilah kaidah fiqh disebutkan bahwa "Kesulitan itu mendatangkan kemudahan".

Secara singkat lewat kaidah ini para ulama terutama ulama fiqh ingin menunjukan keluwesan dan kedimanisan Islam yang esensi ibadahnya dapat tetap dilaksanakan meski dalam kondisi kesulitan sedang dihadapi.

Dalam kasus salat wajib lima waktu misalnya, salat itu tetap bisa dilaksanakan sebagai wujud penghambaan kepada Sang Kuasa meski kita dalam kondisi sakit, sulit, bahkan dalam keadaan perang yang membahayakan nyawa kita.

Tentu pelaksanaanya menjadi berbeda dengan kondisi normal seperti biasa, tata cara dan gerakanya. Jika dalam keadaan normal kita salat berdiri, tapi dalam kondisi sakit kita bisa salat dalam keadaan duduk, berbaring, bahkan jika kondisi kita sudah sangat parah, kita diperbolehkan salat menggunakan isyarat saja, bahkan gerakan hati, dalam fiqh ulama mengupas tuntas masalah ini.

Dari sini bisa kita lihat bagaimana Islam adalah agama yang selalu menawarkan solusi buat pemeluknya untuk tetap menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kondisi apapun. Sebab bagi Islam kesulitan itu mendatangkan kemudahan.

Bukan malah terus diratapi dan dianggap beban sehingga mendatangkan kesulitan berikutnya, kesulitan-kesulitan dan kesulitan, begitu seterusnya, bukan kemudahan. Jika demikian Islam memberatkan, bukan malah memudahkan.

Halaman
12
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved