Berita Pemprov Kalimantan Utara

Jaga Stabilitas Harga, 5 Ton Bawang Merah Bima Didatangkan ke Kaltara

Bahkan pada 31 Mei lalu, harganya di Pasar Induk Tanjung Selor berada pada kisaran Rp. 70 hingga 90 ribu

HUMASPROV KALTARA
BAWANG BIMA - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara Wahyuni Nuzband menunjukkan bawang yang telah tiba dari dari Bima NTT, Senin (1/6/2020). Rencananya bawang ini akan dijual juga di Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Tanjung Selor untuk menstabilkan harga. Harga bawang merah sempat melonjak di Tanjung Selor mencapai Rp 60.000 hingga Rp 90.000 per kg pada 31 Mei 2020. 

TANJUNG SELOR - Sebanyak 5 ton Bawang Merah asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) tiba di Tanjung Selor, Senin (1/6/2020).

Ini merupakan upaya bersama antara pemerintah dengan pengusaha lokal dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pangan dengan memanfaatkan program bantuan biaya distribusi dari daerah asal dari Kementrian Pertanian (Kementan).

Sebagaimana diketahui, sejak mendekati hingga sepekan setelah Hari Raya Idulfitri, harga bawang merah di Kaltara terus melonjak naik. Bahkan pada 31 Mei lalu, harganya di Pasar Induk Tanjung Selor berada pada kisaran Rp. 70 hingga 90 ribu per kilogram (tergantung kualitas bawang).

“Rencananya bawang ini akan kita jual juga di Toko Tani Indonesia Center (TTIC),” kata kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kaltara, Wahyuni Nuzbang, kemarin.

Pelonjakan harga bawang ini sendiri, sudah diprediksi sebelumnya. Dijelaskan Wahyuni, Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementan RI menyampaikan bahwa neraca nasional bawang merah diperkirakan mengalami defisit 3.700 ton di lebih dari 20 provinsi. Namun ditaksir akan kembali normal pada Juni 2020.

“Produksi bawang dalam negeri diperkirakan akan kembali surplus terhadap kebutuhan nasional karena akan terjadi panen di beberapa daerah,” tuturnya.

Pada skala lokal, Wahyuni mengajak para petani maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk menjual hasil taninya di TTIC. “Hasil tani apa saja. Tapi dengan syarat hasil pertaniannya legal. Terutama yang impor serta harga lebih rendah atau minimal sama dengan harga pasar,” tutupnya.(adv/humas)

Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved