Breaking News:

Virus Corona di Samarinda

Kisah Petani Sayuran di Samarinda, Tetap Bekerja Dibalik Pandemi Covid-19, Penjualan Berjalan Lancar

Di tengah pandemi wabah virus Corona atau covid-19, membuat sektor perekonomian juga menjadi merosot.

Penulis: Muhammad Riduan | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD RIDUAN
Rusni (45), seorang petani sayuran di kawasan Kelurahan Tani Aman Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, saat diwawancari Tribunkaltim.co, usai mengikuti kegiatan bersama Walikota Samarinda, Polresta Samarinda dan Dandim 0901/Samarinda serta OPD terkait, pada Sabtu (13/6/2020). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Di tengah pandemi wabah virus Corona atau covid-19, membuat sektor perekonomian juga menjadi merosot.

Namun agar perekonomian, dan kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi ada orang-orang yang berjuang dibaliknya, seperti pemerintah dan masyarakat yang memang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

Rusni (54) salah seorang petani yang ada di kawasan Kelurahan Tani Aman Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, yang mana tetap terus bekerja dibalik adanya wabah covid-19 di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Ia bercerita, untuk saat ini kondisi pemasaran sayur mayur yang ditanamnya berjalan dengan lancar dan tidak ada masalah.

Baca Juga: Hasil Rapid Test Hafiz Quran dan Takmir Masjid Al-Ansor di Tenggarong Kukar, Ada 69 Orang

Baca Juga: PHRI Tarakan Pikirkan Nasib Hotel yang tak Ada Kerjasama Karantina Kasus Covid-19, Begini Solusinya

"Alhamdulillah untuk penjualan hasil pertanian lancar pak, kadang - kadang dari pedagang langsung yang ngambil ke sini, dan kadang juga bawa ke pasar sendiri," ucapnya saat diwawancari Tribunkaltim.co, usai mengikuti kegiatan bersama Walikota Samarinda, Polresta Samarinda dan Dandim 0901/Samarinda serta OPD terkait, pada Sabtu (13/6/2020).

Sedangkan mengenai harganya pun, juga terbilang stabil, "Sekarang masalah harga agak lumayan, satu ikatnya kalo bayam Rp. 8.000, kalonya bayam satu ikatnya Rp. 5000," tambahnya.

Dibalik melakoni pekerjaannya tentu juga ada kendala dibaliknya, Rusni menyebutkan yang memang terkadang susah dicari itu, seperti bibit yang kadang kosong dan pupuk yang susah dicari.

"Kebutuhan, masalah bibit, kan waktu kosong jadinya gak ada, dan pupuk pun juga kadang-kadang susah dicarinya, kalau pas lagi kosong, susah mencarinya ke mana-mana, dua itu yang paling diutamakan," ungkapnya.

Baca Juga: Kisah Penggali Kuburan Pasien Covid-19 Balikpapan, Takut Tapi Dipaksa Hingga Siapkan Lubang Cadangan

Baca Juga: Pemicu Klaster Baru Pasein Covid-19 di Balikpapan, Waktu Dekat Ini Kampung Baru akan Disterilkan

Awak media Tribunkaltim.co pun, menyinggung terkait semisal dua kebutuhan tersebut tidak ada, bagaimana melanjutkan untuk bercocok tanam. Ia menyebutkan kalau itu terjadi maka berhenti sementara waktu.

"Tidak ada sama sekali berhenti dahulu, lahannya ditanggul dulu, sambil nunggu bibit itu ada, tapibkadang-kadang paling lama nunggu bisa sampai satu bulan. Kalaunya pupuk bisa lebih lama, apalagi diakhir tahun," jawabnya.

( TribunKaltim.co )

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved