Breaking News:

Bioprospeksi dalam Budidaya Rumput Laut di Kaltim

KALIMANTAN Timur merupakan provinsi besar yang berluaskan 127.267,52 km2, menjadikannya sebagai provinsi terluas di Indonesia setelah Papua dan Kalima

kompas.com
Rumput laut 

KALIMANTAN Timur merupakan provinsi besar yang berluaskan 127.267,52 km2, menjadikannya sebagai provinsi terluas di Indonesia setelah Papua dan Kalimantan Tengah. Provinsi ini terdiri dari 7 Kabupaten dan 3 Kota.

Wilayah Kalimantan Timur berbatasan langsung dengan Kalimantan Utara di bagian Utara, Laut Sulawesi dan Selat Makassar di bagian Timur, Kalimantan Selatan pada selatan, serta Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Malaysia di sisi barat.

Kalimantan Timur setidaknya memiliki 205 pulau yang hanya 18 pulau saja yang berpenghuni dan 187 sisanya belum ditempatkan, tetapi seluruhnya sudah diberikan nama. Kalimantan Timur dengan segala kelimpahannya itu pun memiliki luas pengelolaan laut berkisar 25.267,52 km2, sangat mampu dimanfaatkan untuk keperluan provinsi. Jenis komoditas pada ekosistem laut di provinsi Kalimantan Timur antara lain adanya terumbu karang, mangrove, lamun, ikan-ikanan dan rumput laut.

Bioprospeksi dapat diartikan pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam bentuk apa pun yang dapat dijadikan sumber keuntungan atau bersifat komersial. Salah satu provinsi, Kalimantan Timur, juga memiliki potensi namun kurang dimanfaatkan secara keseluruhan.

Jenis rumput laut yang dibudidaya salah satunya Eucheuma cottoni. Kurangnya perhatian dari produksi rumput laut ini membuat para petani rumput laut lebih memilih untuk menjual rumput laut dalam bentuk mentah saja.

Penjualan rumput laut dilakukan bukan karena agar mendapatkan keuntungan yang besar tetapi, karena harga dari rumput laut mentah yang dijual perkilonya tidak sampai sepuluh ribu rupiah.

Hal ini disebabkan kurangnya pasar bagi produk laut berjenis ini di Kalimantan Timur, berbanding terbalik dengan kelimpahan hasil panen yang bisa mencapai kurang lebih enam ribu ton untuk 2019 lalu.

Angka ini sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, 2018, yang mencapai hampir dua kali lipat jumlahnya yaitu kurang lebih 13 ribu ton. Penurunan jumlah hasil panen ini sebenarnya terjadi karena perubahan cuaca yang tidak menentu.

Hambatan lainnya dalam budidaya rumput laut adalah kurang tepatnya strategi dan pengolahan yang belum maksimal. Harga produk mentah rumput laut yang rendah dan tidak ada jaminan adanya perbedaan keuntungan signifikan apabila produk diolah membuat banyak petani yang mau tidak mau memilih hal tersebut.

Berdasarkan hasil yang sudah didapatkan, budidaya rumput laut di Kalimantan Timur sudah banyak adanya tetapi dalam segi bioprospeksi hal ini masih belum dimanfaatkan dengan benar.

Halaman
123
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved