Breaking News:

Mengurangi Dampak Pemanasan Global

PADA 5 Juni lalu, kita kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Internasional. Peringatan tersebut bertujuan menjaga kelestarian lingkungan hidup se

ist
Mengurangi Dampak Pemanasan Global 

PADA 5 Juni lalu, kita kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Internasional. Peringatan tersebut bertujuan menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai penopang kualitas kehidupan manusia.

Harus diakui bahwa kualitas lingkungan hidup saat ini menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Salah satu hal yang ramai dibicarakan berkaitan dengan penurunan kualitas tersebut adalah terjadinya pemanasan global.

Pemanasan global atau yang dikenal dengan istilah global warming adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfir, laut, dan daratan Bumi.

Efek dari global warming yang kita rasakan saat ini antara lain meningkatknya suhu global. Pada tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change menyebut suhu udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius sejak 1861.

Dan diprediksi peningkatan suhu rata-rata global adalah 1.1 hingga 6.4 °C antara tahun 1990 dan 2100. Sedangkan menurut data PBB yang dirilis pada awal 2020 disebutkan bahwa tahun 2016 lalu adalah tahun dengan suhu terpanas sepanjang sejarah.

Dampak alamiah dari suhu panas tersebut adalah mencairnya es di daerah kutub. Lembaga Ice Sheet Mass Balance Intercomparison Exercise (IMBE) menyebut bila Antara 1992 dan 2017, Greenland dan Antartika kehilangan total gabungan 6,4 triliun ton es. Dan hanya dalam tiga dekade, pencairan telah meningkat enam kali lipat.

Mencairnya es tersebut salah satunya mengakibatkan permukaan air laut terus meningkat. Secara global antara tahun 1900 hingga 2016 diketahui permukaan air laut meningkat antara 16-21 cm menurut U.S. Global Change Research Program. Apabila terus terjadi kenaikan, diperkirakan 100 juta orang yang tinggal di pinggir pantai akan mengungsi

Salah satu penyebab pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir. Gas rumah kaca antara lain berasal dari uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi dari sinar matahari. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Sejatinya bumi memerlukan efek rumah kaca karena tanpa efek tersebut, suhu bumi hanya -18° C.

Kedua, banyaknya polusi yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Terlebih Sebagian besar energi yang digunakan seluruh dunia berasal dari bahan bakar fosil. Data dari BP Statistical Review menyebut pada tahun 2015, konsumsi bahan bakar fosil mencapai 85,99% dengan rincian minyak bumi sebesar 32,94%, batu bara sebesar 29,20% dan gas bumi sebesar 23,85%. Pada tahun 2013 seperti dikutip dari International Energy Agency, permintaan bahan bakar fosil (minyak bumi, gas bumi dan batu bara) di seluruh dunia setidaknya mencapai 81% dengan rincian minyak bumi sebesar 31%, batu bara sebesar 29% dan gas bumi sebesar 21%.

Melihat banyaknya kerugian yang diakibatkan oleh pemanasan global tersebut, sudah sepatutnya kita mengambil langkah-langkah sejak saat ini agar pemanasan global dapat dikurangi. Yang pertama adalah mengurangi pemakaian bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara seperti memakai kendaraan ramah lingkungan (sepeda atau kendaraan listrik).

Halaman
12
Tags
Opini
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved