Breaking News:

Virus Corona

Studi Terbaru: Antibodi Corona Hanya Bertahan 2-3 Bulan, Ini Artinya, Apa Pengaruhnya dengan Vaksin?

Studi terbaru menunjukkan antibodi Corona hanya bertahan 2-3 bulan saja, ini artinya dan adakah pengaruhnya dengan vaksin?

Editor: Amalia Husnul Arofiati
canva/tribunkaltim
Ilustrasi. Ini hasil studi terbaru, menunjukkan antibodi Corona hanya bertahan 2-3 bulan saja, ini artinya dan adakah pengaruhnya dengan vaksin? 

TRIBUNKALTIM.CO - Ini hasil studi terbaru, menunjukkan antibodi Corona hanya bertahan 2-3 bulan saja, ini artinya dan adakah pengaruhnya dengan vaksin?

Dunia saat ini masih belum mengetahui banyak hal mengenai virus Corona SARS-CoV-2 yang menyebakan penyakit covid-19, masih banyak misteri yang belum terungkap.

Hasil studi terbaru menunjukkan, antibodi Corona hanya bertahan 2-3 bulan saja, apa artinya, dan apakah pengaruhnya dengan vaksin Corona jika nanti ditemukan. 

Sejumlah misteri terkait virus Corona SARS-CoV-2 penyebab covid-19, salah satunya adalah apakah seseorang menjadi kebal setelah terinfeksi virus Corona.

Untuk menyelidiki hal itu, para ahli meneliti respons antibodi yang terbentuk setelah seseorang terinfeksi covid-19.

Dilaporkan dalam artikel Kompas.com sebelumnya, sebuah studi terhadap 37 Orang Tanpa Gejala ( OTG ) di Distrik Wanzhou China yang dipublikasikan dalam Nature Medicine mengungkapkan bahwa OTG memiliki respons antibodi yang lebih lemah terhadap virus SARS-CoV-2 dibanding pasien covid-19 yang bergejala.

Singgung Vaksin Virus Corona, Jusuf Kalla Sebut Masih Lama Pakai Masker Bisa-bisa 2 Tahun Lagi

Kabar Gembira, 2 Kali Uji Coba Pada Manusia, Vaksin Corona Buatan China Tunjukan Hasil Positif

Kabar Gembira, Proses Vaksin Corona Buatan Indonesia Tunjukkan Kemajuan, Akhir Tahun Bisa Keluar

Tetangga Indonesia Ini Tak Buka Sekolah Sampai Ada Vaksin Virus Corona, Patuh Arahan Rodrigo Duterte

Studi ini juga menemukan bahwa antibodi virus Corona hanya bertahan selama 2-3 bulan setelah seseorang terinfeksi covid-19.

Dalam waktu delapan minggu, 81 persen OTG mengalami penurunan antibodi, sementara hanya 62 persen pasien bergejala mengalami hal yang sama.

Tingkat antibodi pada 40 persen pasien OTG juga turun hingga level yang tak terdeteksi dalam kurun waktu tersebut.

Presentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasien bergejala, di mana hanya 12,9 persen yang mengalami hal serupa.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved