Breaking News:

Berita DPRD Kalimantan Timur

Akomodir Lebih Banyak Masukan Termasuk dari Nelayan, Pansus RZWP3K Kaltim Diperpanjang

Selain perlu melibatkan pihak akademisi, organisasi profesi dan nelayan, pansus juga harus menerima masukkan dari pihak perusahaan.

HUMAS DPRD KALTIM
DIPERPANJANG - Ketua Pansus Raperda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kaltim Sarkowi W Zahri. DPRD Kaltim memperpanjang masa kerja pansus agar bisa leih banyak mengakomodir masukan dari banyak pihak, termasuk untuk sinkronisasi data. 

SAMARINDA- Pembahasan encana Peraturan Daerah (Raperda) tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Kaltim diperpanjang. Hal ini dimaksud agar tidak ada pihak yang dirugikan ketika regulasi ini diterapkan.

Ketua Pansus pembahas Raperda tentang RZWP3K Kaltim, Sarkowi V Zahri mengatakan, perpanjangan masa kerja pansus dimaksud untuk mengakomodir seluruh masukan-masukan dari kabupaten dan kota se Kaltim sekaligus sinkronisasi data.

Selain itu, pansus juga masih harus melibatkan pihak-pihak terkait seperti akademisi, organisasi profesi dan nelayan.

"Karena, semakin banyak mereka memberikan masukan, semakin bagus. Karena ketika raperda ini diundangkan bukan justru akan terjadi kemunduran, dalam artian kemunduran itu nelayan yang sebelumnya bagus mencari nafkah malah berkurang," tuturnya.

Selain perlu melibatkan pihak akademisi, organisasi profesi dan nelayan, pansus juga harus menerima masukkan dari pihak perusahaan.

"Bagaimanapun juga, perusahaan merupakan salah satu stakeholder yang terlibat dalam pemanfaatan laut dan pesisir," beber Sarkowi.

Termasuk stakeholder yang lain, Politisi Golkar ini berharap tidak terjadi kemunduran. Untuk itu, sinkronisasi aturan dapat menaungi semua pihak dan bisa dipatuhi semua pihak.

"Data ini kami perlu mengkaji serius, melibatkan pakar. Karena berbicara data, apalagi peta, itu kan jangan sampai terjadi kesalahan," sebutnya.

Karena menurut Sarkowi, ketelitian dalam pembahasan draf raperda adalah hal wajib. Seperti penempatan area harus sesuai dengan pemanfaatannya.

"Jangan sampai terjadi kesalahan. Misalnya, yang harusnya dijadikan area pemanfaatan, dijadikan area yang lain. Itu yang tidak kita harapkan," ujarnya.

Sehingga, peta yang mengatur RZWP3K nantinya betul-betul sinkron dengan aturan yang dibuat. Memang ini alokasi zonasinya tepat sasaran. Misalnya, apakah ini area strategis nasional, apakah area konservasi, apa area pemanfaatan umum, atau area wisata.

“Jadi kita harus sinkronkan dengan petanya. Begitu nanti sudah diputuskan raperda dengan pemetaannya, otomatis akan berlaku selama 20 tahun. Nah ini yang kami jaga, jangan sampai nanti ada pihak yang dirugikan," tambahnya. (advertorial/hms6)

Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved