Refleksi Hari Keluarga Nasional: Memaknai Sebuah Keluarga

Dalam sejarah perjalanan manusia dari zaman sejak Nabi Adam as yang sejatinya berada dalam surga seorang diri lalu dengan kehendakNya diberikan teman

HO
Hj. Crispina Gili Sunardewita, ST 

Oleh: Hj. Crispina Gili Sunardewita, ST, Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga BPKK DPD PKS Balikpapan

TRIBUNKALTIM.CO - KELUARGA merupakan persambungan sebuah peradaban.  Dalam sejarah perjalanan manusia dari zaman sejak Nabi Adam as yang sejatinya berada dalam surga seorang diri lalu dengan kehendakNya diberikan teman hidup seorang wanita yang bernama Hawa.

Hidup berdua dalam tempat yang nyaman hanya ada satu pesan Allah Ta’ala yaitu larangan agar tidak memakan buah kuldi.

Tetapi ternyata memang ada setan yang tidak menyukai kedudukan Adam as sehingga setan berupaya membujuk agar Adam as dan Hawa justru melakukan larangan tersebut.

Akhir cerita berhasilkan upaya setan menggiring pasutri tersebut memakan buah kuldi. Sebagai sebuah konsekuensi mereka ditrurunkan di muka muka.

Konon posisi diturunkan Adam dan as dan Hawa tidak dalam tempat hingga akhirnya dipertemukan di Jabbal Rahmah kota Mekkah.

Dan Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda tanda (kebesaran Kami) kepada orang orang yang mengetahui.   ( Terjemahan Al Qur’an Surah Al An’am 6 ayat 98 )

Fitrah manusia adalah berpasanagan membentuk sebuah keluarga. Keluarga merupakan komponen  penting dalam  mewujutkan sebuah negara yang kuat.

Seseorang dalam keberadan di dunia ini tidaklah bisa memilih dari mana sang ayah dan ibunya. Dengan takdirNya lahirlah diri manusia dengan jenis kelamin yang telah ditetapkanNya.

Tentunya ada maksud yang telah sesuai sunnatullah. Sampai waktunya seorang pria dan seorang wanita membina sebuah keluarga.

Halaman
123
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved