Breaking News:

Berita Pemkab Berau

Mengandung Bakteri Berbahaya, Pemkab Bahas Peredaran Jamur Enoki di Berau

Rapat ini merupakan tindaklanjut dari surat edaran dari pemerintah pusat untuk menyetop peredaran jamur enoki.

HUMASKAB BERAU
BAHAS JAMUR - Pemkab Berau mengelar rapat membahas peredaran jamur enoki, Rabu (1/7/2020). Rapat dipimpin Asisten II Setda Berau, Mansyah Kelana dan dihadiri sejumlah kepala OPD serta instansi terkait lainnya. 

TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten Berau mengelar rapat pembahasan terkait peredaran jamur enoki, Rabu (1/7/2020). Rapat ini merupakan tindaklanjut dari surat edaran dari pemerintah pusat untuk menyetop peredaran jamur enoki.

Rapat pembahasan dipimpin oleh Asisten II Setda Berau, Mansyah Kelana. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah kepala OPD serta instansi terkait lainnya.

Mansyah menyampaikan bahwa dalam waktu dekat ini akan dibentuk tim untuk melakukan pengawasan terkait peredaran jamur asal Korea selatan tersebut. Dimana saat ini telah keluar surat edaran menteri untuk menghentikan peredaran jamur enoki.

“Dalam waktu dekat kita akan mengundang para pengecer untuk membicarakan hal tersebut. Sekaligus untuk memberikan sosialisasi terkait berbahayanya jamur ini bagi kesehatan,” jelasnya.

Dalam peredarannya, jamur enoki mengandung bakteri listeria yang bisa menyebabkan kematian. Jamur enoki ini biasanya digunakan dalam makanan khas Korea seperti suki. Dan di Berau ada empat titik peredaran jamur enoki.

“Kementrian sudah mengedarkan surat terkait perintahkan untuk menarik semua jamur enoki ini dan memusnahkannya,” ujar Mansyah.

Sementara dari informasi yang ada, produk jamur enoki yang masuk ke Indonesia berasal dari tiga Negara yaitu Cina, Korea, dan Jepang. Sementara yang mengandung bakteri listeria merupakan produk asal Korea.

“Disosialisasikan kepada masyarakat bahwa jamur ini berbahaya mengandung bakteri. Aturan sudah jelas bahwa jamur Enoki produk dari Korea sudah ditarik,” imbuhnya.

Jamur enoki dari Korea Selatan sudah tercemar oleh bakteri listeria dan yang harus diwaspadai bagi ibu hamil, balita dan lansia. “Kita telusuri kemana saja produk ini telah diedarkan. Kemudian sekalian untuk diuji, apakah produk ini mengandung bakteri atau tidak,” pungkasnya. (adv/hms5)

Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved