Virus Corona di Balikpapan

Cerita Gaya Hidup di Balikpapan, Tren Kopi Literan Saat Pandemi Covid-19, Efisien dan Bisa Berbagi

Tren kopi satu liter kian banyak diadopsi saat ini. Hal itu dianggap sebagai strategi bertahan di masa pandemi covid-19 atau Corona

TRIBUNKALTIM.CO/HERIANI AMIR
Tren kopi satu liter kian banyak diadopsi saat ini. Hal itu dianggap sebagai strategi bertahan di masa pandemi covid-19. Tren ini sekaligus menjadi cara baru menikmati minuman kafein favorit di saat pandemi Corona atau covid-19 di Kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Tren kopi satu liter kian banyak diadopsi saat ini. Hal itu dianggap sebagai strategi bertahan di masa pandemi covid-19 atau Corona.

Tren ini sekaligus menjadi cara baru menikmati minuman kafein favorit di saat pandemi Corona atau covid-19 di Kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur.

Kopi literan cocok untuk memenuhi kebutuhan kafein tapi mengurangi pemakaian packaging. Sehingga dengan literan packagingnya hanya menggunakan satu botol.

Paket literan menjadi andalan beberapa gerai untuk tetap memberi suguhan spesial pada konsumen. Pemesanan literan dapat dijadikan stok di lemari es selama beberapa hari atau pekan. Di Kota Balikpapan, kopi satu liter ini cukup diminati pencinta kopi.

Baca Juga: Hasil Rapid Test Karyawan Borneo Bay City Balikpapan, Jalankan SOP Sesuai Protokol Covid-19

Baca Juga: Komentari OTT KPK, Ketua Nasdem Kaltim: Kurang Apa Lagi Coba jadi Bupati, Istri Ketua DPRD Kutim

Mungkin semenjak pandemi Corona, di saat masyarakat diharuskan menerapkan physical distancing, namun kebutuhan mereka untuk ngopi juga tetap tinggi.

"Di saat itu lah mulai muncul yg namanya kopi literan," ujar Aditya Hafidz, pelaku industri rumahan yang menawarkan beragam varian kopi, termasuk kopi satu liter kepada TribunKaltim.co pada Sabtu (4/7/2020).

Pemilik brand Tekena Kopi yang ia kelola bersama tiga temannya itu, memasarkan produknya secara daring. Usaha yang mulai digandungi sejak 2019 lalu namun sempat vakum karena para owner tengah menyusun manajemen bahan dan rasa sekaligus memperkuat teknik berjualan secara online itu, mendapat untung yang cukup dari penjualnya.

"Untuk efek dari pandemi, karena kita mulai berjualan pada Mei 2020, kami masih belum bisa menghitung secara pasti efeknya, dimana jika dilihat, pandemi mulai Maret 2020 kalau tidak salah," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Heriani AM
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved