Breaking News:

Ibu Kota Negara

BI Kaltim Nilai Keberadaan Ibu Kota Negara di Sepaku Penajam dan Samboja Kukar jadi Daya Tarik

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur ( BI Kaltim ), Tutuk SH Cahyono mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur

TRIBUNKALTIM.CO/PURNOMO SUSANTO
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur atau BI Kaltim, Tutuk SH Cahyono saat memberikan paparan Diseminasi Perekonomian Kaltim secara virtual, pada Jumat (10/07/2020). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur ( BI Kaltim ), Tutuk SH Cahyono mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur lebih lambat dari sebelumnya.

“Meskipun lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya, ekonomi Kaltim Triwulan I 2020 tumbuh positif 1,27% (year of year/yoy),” ujarnya saat menyampaikan paparan di Diseminasi Perekonomian Kalimantan Timur secara virtual, pada Jumat (10/07/2020).

“Dibandingkan beberapa provinsi lain yang juga mengalami kontraksi, capaian Provinsi Kalimantan Timur relatif lebih baik di tengah merebaknya covid-19 saat ini,” lanjutnya.

Terlebih saat memasuki Juni 2020 lalu, dijelaskan Tutuk, keyakinan masyarakat terhadap ekonomi Kaltim mulai membaik. Hal ini, terlihat dari peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen dalam Survei Konsumen (SK) BI Kaltim.

Lengkapi Ibu Kota Negara, Landasan Udara di PPU Nantinya jadi 3 Bandara Terbesar di Kaltim

Pokdarwis di Lokasi Calon Ibu Kota Negara Dilatih, SDM Babulu Laut Libatkan 100 Persen Anak Muda

“Sebagai provinsi dengan kontribusi ekonomi terbesar di Pulau Kalimantan, dinamika Kaltim secara langsung akan mempengaruhi perekonomian Kalimantan,” katanya.

Ketergantungan terhadap lapangan usaha pertambangan, disebutkan Tutuk, menjadikan kemampuan fiskal Kaltim turut bergerak senada dengan performa tambang.

“Padahal, batubara maupun Crude Palm Oil (CPO) Kalimantan Timur cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut dalam rangka mendukung perekonomian yang lebih resilien melalui industri turunannya,” pungkasnya.

CPO, ditegaskan Tutuk, harus terus dikembangkan hingga produk turunannya seperti B30 dan industri makanan. Begitu juga dengan batubara, minyak, dan gas sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

60 Km Jalan Tol Menuju Ibu Kota Negara di Penajam akan Dibangun, Ground Breaking Desember 2020

Dibanding Tol Balsam, Wagub Kaltim Sebut Bangun Jalan Tol ke Area Ibu Kota Negara Bisa Lebih Cepat

“Hasil bumi tidak terbarukan harus diperpanjang rantai industrinya melalui hilirisasi. Investasi yang mulai masuk ke Kaltim juga harus diarahkan kepada industri turunan dan green industry,” sebutnya.

Lokasi geografi Kaltim, dituturkan Tutuk, membuka peluang untuk teciptanya green industry. Seperti, dirincikan olehnya, pengolahan mineral, gasifikasi batubara, ataupun pengolan biodiesel, hingga energi bersih untuk menunjang Ibu Kota Negara.

Halaman
12
Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved