Breaking News:

Berita Pemkab Kutai Timur

Pekan Depan, Bidang Peternakan Mulai Periksa Kesehatan Sapi Kurban

Di Sangatta, sapi yang umum ditawarkan ada dua jenis. Sapi Bali dan sapi Brahman Cross.

TRIBUNKALTIM.CO/MARGARET SARITA
HEWAN KURBAN - Petugas memeriksa kesehatan sapi yang akan dijadikan hewan kurban dalam perayaan Idul Adha. Saat ini Para pedagang hewan kurban sudah mulai bermunculan di beberapa titik di wilayah Sangatta Utara. Di antaranya, di Jalan APT Pranoto dan Jalan Pendidikan. 

SANGATTA -  Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban sudah di depan mata. Para pedagang hewan kurban pun sudah mulai bermunculan di beberapa titik di wilayah Sangatta Utara. Di antaranya, di Jalan APT Pranoto dan Jalan Pendidikan.

Mereka membuka lapak jualan di tanah kosong dengan mendirikan kandang non permanen untuk sapi yang akan ditawarkan ke pembeli. Di Sangatta, sapi yang umum ditawarkan ada dua jenis. Sapi Bali dan sapi Brahman Cross.

Tapi ada pula pedagang yang menawarkan sapi limosin. Sapi berukuran besar ini tidak dipamerkan di lapak, melainkan di kandang khusus. Warga yang berminat, dapat melihat fotonya atau langsung ke kandang sapi milik si pedagang.

Puluhan hewan kurban itu, umumnya didatangkan dari Palu atau dari Bone, Sulawesi Selatan. Meski ada pula yang hasil pembiakan lokal. Dengan variasi harga yang beragam tergantung jenis dan bobot sapi yang diminati. Mulai Rp 15,5 juta hingga Rp 50 juta untuk jenis Limosin.

Untuk memastikan sapi-sapi yang akan menjadi hewan kurban tersebut disembelih dan dikonsumsi dalam keadaan sehat, Tim Kesehatan Hewan (Keswan) Kurban, Kasi Keswan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Pertanian Kutim, Drh Cut Mutia, akan melakukan pemeriksaan hewan kurban, mulai pekan depan.

“Untuk pemeriksaan, kami akan melihat dari sisi fisik hewan kurban tersebut. Seperti cuping hidung, kalau kering, berarti hewan tersebut sedang demam. Kita beri obat agar sehat. Kemudian melihat jumlah gigi, untuk menghitung usia hewan kurban. Karena jangan sampai belum berusia 1 tahun, sudah dijual untuk jadi hewan kurban. Kita juga melihat bulunya. Kalau berdiri, artinya cacingan. Itu perlu diwaspadai juga,” beber Mutia.

Tak hanya sebelum penyembelihan, pemeriksaan hewan kurban menurut Mutia juga akan dilakukan setelah penyembelihan. Tim kesehatan hewan Dinas Pertanian Kutim, akan melakukan pemeriksaan dengan uji sampel pada bagian dalam hewan kurban.

Terutama bagian hati, yang kerap ada cacing hati. Selain itu apakah ada pembengkakan di bagian organ dalam.(advertorial/Diskominfo Perstik Kutim/sar)

Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved