Breaking News:

Cities Become Killing Fields?

BESI tua bercat hitam itu masih ada. Berdiri kokoh hingga ratusan tahun. Di trotoar jalan di salah satu kota terbesar Uni Eropa, London.

Editor: Tohir

BESI tua bercat hitam itu masih ada. Berdiri kokoh hingga ratusan tahun. Di trotoar jalan di salah satu kota terbesar Uni Eropa, London. Hanya belasan menit dari Buckingham Palace, kediaman resmi keluarga kerajaan Britania Raya (Great Britain).

Besi tua itu adalah milestone bagi pemerintah dan penduduk Kota London. Jadi pengingat abadi akan adanya serangan wabah di pertengahan abad 19. Wabah ini layaknya malaikat maut yang bergentayangan dipenjuru kota. Merenggut nyawa penduduk kota. Disetiap saat. Hanya dalam kurun waktu 10 hari, 500 orang wafat.

Wabah yang mengakibatkan kematian puluhan ribu orang dan bahkan yang terparah seantero dunia, yang saat itu, belum diketahui pasti penyebabnya hingga puluhan tahun kemudian dikenal sebagai Cholera. Wabah ini adalah pandemic kolera gelombang III, yang seantero Inggris Raya, dikenal sebagai tahun kematian yang terburuk.

Sama halnya saat ini, di abad 21, saat Covid 19 mewabah di seluruh dunia. Abad pertengahan abad 19 juga terjadi perdebatan yang sengit. Apakah penyebarannya melalui air yang terkontaminasi atau melalui udara yang tercemar.

Dokter John Snow, seorang dokter ahli bedah, saat menyelusuri penyebab wabah ini menemukan bahwa adanya keterkaitan sangat erat antara infrastruktur kota dan perilaku masyarakat kota dengan terjadinya bencana wabah.

Inisiatif John Snow memetakan tingkat kematian membuahkan hasil. Klusternya ada di sekitar pompa manual. Untuk menyakinkan temuannya, John Snow menyarankan ke pejabat pemerintah kota untuk mencopot handle pompa manual. Hasilnya, jumlah kematian menurun drastis. John Snow menduga wabah disebabkan air tercemar berdasarkan pengamatannya pada saluran air limbah.

Karena keterbatasan saluran limbah, air limbah rumah tangga menggenangi pemukiman warga dihampir seluruh area pemukiman warga dalam area yang luas. Pemerintah kota mengambilkan kebijakan taktis untuk membuang air limbah ke saluran sungai. Mengakibatkan pencemaran ketersediaan air minum. Kawasan pemukiman kumuh yang bercampur baur dengan kawasan peternakan memperparah keadaan makin buruk. Di sisi lain, perusahaan daerah air minum mengandalkan sumber air sungai sebagai air baku yang sudah terkontaminasi sehingga paparan wabah makin meningkat.

Kondisi carut marut yang berlangsung lama ini akhirnya mendapat solusi. Pemerintah kota, konsultan ahli tata kota dan lembaga kesehatan masyarakat mengeluarkan kebijakan yang tepat dengan mengatur tata ruang dengan menyiapkan segala infrastruktur. Kasus ini menjadi langkah penting pada penataan kota yang memperhatikan fasilitas sanitasi dan saluran pengolaan limbah. Edward L. Glaeser, professor ekonomi Harvard University dalam artikel Cities and Pandemics Have a Long History (2020) menyebutkan bahwa John Snow adalah salah satu pahlawan perkotaan abad ke-19 yang dengan usahanya membuat kota semakin sehat (healthier cities). Dedikasi John Snow menjalar ke kota-kota lain.

Para pengambil keputusan seperti Stephen Smith (Ketua Pertama Lembaga Kesehatan New York) yang mewajibkan para pemilik rumah untuk menyambungkan saluran limbahnya dengan saluran air limbah kota. George A. Waring (insinyur militer, Komisioner Sanitasi) mendesain sistem sanitasi kota yang monumental. Yang dikemudian hari dikenal sebagai landasan sistem pengelolaan kebersihan kota yang modern (daur ulang, pembersihan jalan dan pengumpulan sampah).

Edward L. Glaeser mencatat satu abad terakhir ini bahwa kota bukanlah menjadi ladang pembunuhan. Kota menjadi lebih sehat dan aman berkat berbagai temuan dan terobosan medis, kemajuan teknik dan sanitasi perkotaan yang layak.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved