Breaking News:

Bijak Menjadi Orangtua di Era New Normal

SUDAH beberapa bulan terakhir sektor pendidikan turut menghadapi dampak pandemi Covid-19. Metode pembelajaran yang semula konvensiona menjadi daring

HO
Bety Vitriana,S.Pd., M.Pd dan Nur Arfiani, S.H., M.Si, Dosen Fakultas Humaniora dan Kesehatan Universitas Mulia 

Oleh: Bety Vitriana,S.Pd., M.Pd dan Nur Arfiani, S.H., M.Si

Dosen Fakultas Humaniora dan Kesehatan Universitas Mulia

TRIBUNKALTIM.CO - SUDAH beberapa bulan terakhir sektor pendidikan turut menghadapi dampak pandemi Covid-19. Metode pembelajaran yang semula dilakukan secara konvensional beralih menjadi daring.

Kegiatan belajar mengajar konvensional dilakukan dengan cara tatap muka langsung di sekolah, terjadwal, sehingga hampir sebagian besar waktu anak dihabiskan di luar rumah termasuk kegiatan di luar sekolah seperti les, ekstrakulikuler, bermain, dan kegiatan lainnya.

Sedangkan pasca pemberlakuan kebijakan new normal, maka hampir seluruh kegiatan kembali dilakukan seperti biasa dengan menjalankan protokol kesehatan.

Namun hal ini tidak terjadi pada sektor pendidikan. Pada sektor ini, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring dimana peran orang tua akan lebih banyak dibandingkan dengan biasanya.

Berdasarkan Data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada April 2020, pasca diberlakukannya himbauan sekolah jarak jauh, terdapat 68,8 juta siswa di Indonesia melaksanakan kegiatan belajar dari rumah di mana peran orangtua tidak dapat dilepaskan dari kegiatan ini.

Beberapa orang tua mengeluhkan kebingungan mengurus sekolah anak mereka sebagaimana laporan yang diterima oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Tentunya orang tua perlu memiliki kondisi ekstra untuk menghadapi keadaan ini, persiapan psikis dan fisik harus lah prima agar dapat memberikan pendampingan terbaik pada anak dalam menjalankan kegiatan belajar dari rumah.

Karena jika hal tersebut terabaikan, maka akan berpotensi terjadinya kekerasan terhadap anak. Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

Halaman
1234
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved