Breaking News:

Selesaikan Masalah Perbatasan dengan Pertukaran Budaya, Yansen; Daerah Tapal Batas Masih Kerabat

Masih menjadi persoalan sampai saat ini, kelangkaan BBM dan tingginya harga kebutuhan pokok di Krayan, Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara (Kaltara).

Penulis: Purnomo Susanto | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO, PURNOMO SUSANTO
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persekutuan Dayak Lundayeh, Yansen Tipa Padan 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Masih menjadi persoalan sampai saat ini, kelangkaan BBM dan tingginya harga kebutuhan pokok di Krayan, Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara ( Kaltara ).

Ketergantungan kepada negara tetangga Malaysia, menjadi faktor kesulitan masyarakat di salah satu daerah perbatasan dan pedalaman di Indonesia itu.

Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL), Yansen Tipa Padan mengungkapkan, melalui pertukaran budaya persoalan tersebut bisa diselesaikan.

“Persoalan seperti ini, pernah saya alami di Malinau,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Bupati Malinau, saat dihubungi awak Tribunkaltim.co melalui telepon selularnya, pada Rabu (26/8/2020).

“Awal dulu, saya ingat, saya meminta izin Pak Awang Faroek Ishak (AFI) saat menjabat sebagai Gubernur Kaltim, untuk saya diizinkan bersilatirahmi ke Malaysia,” lanjutnya.

Baca juga; Amien Rais Bongkar Sosok Pemberi Perintah Pembakaran Gedung Kejaksaan Agung, Respon ST Burhanuddin?

Baca juga; Bagikan Bantuan Sembako ke Desa Pulau Sapi, Ketua KNPI Malinau Sebut Warga Sempat Kehabisan Uang

Setelah diizinkan, Bupati Malinau dua periode ini mengatakan, ia memboyong warganya yang ada di perbatasan untuk bertandang dengan membawa misi pertukaran budaya.

“Kita semua di perbatasan itu masih kerabat. Masih keluarga. Bahkan, ada petinggi pemerintahan di Malaysia itu dari garis keturunan yang sama,” tandasnya.

Sehingga, dikatakan Yansen, melalui hubungan emosional kekeluargaan dan kekerabatan itulah hubungan baik tersebut dibangun. Sehingga, komunikasi antar warga perbatasan dua negara itu terjalin dengan baik.

“Jadi, saat dulu kita ketemu di Kuala Lumpur (Malaysia) dengan Pak AFI, disinggung lah metode pendekatan budaya tersebut oleh pihak Malaysia. Langsung saja Pak AFI menyodor saya,” tuturnya.

Sulit dan rumit, dikatakan pria yang memasuki penghujung periode kedua sebagai Bupati Malinau ini, apabila penyelesaian persoalan perbatasan ini selalu diupayakan dengan jalan surat menyurat resmi antar dua negara.

“Nanti, nunggu lagi dari Jakarta, mutar lagi ke Malaysia. Lama selesainya kalau nunggu pembicaraan dua negara. Padahal, persoalan di lapangan itu harus segera diselesaikan. Sebab, masalah itu sudah ada di depan mata,” tegasnya. (ink)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved