Memanfaatkan Layanan Gaya Hidup Digital Telkomsel di Tengah Pandemi Covid-19 ala Penjahit Masker

Memanfaatkan Layanan Gaya Hidup Digital Telkomsel di Tengah Pandemi Covid-19 ala Penjahit Masker

Penulis: Trinilo Umardini | Editor: Trinilo Umardini
TRIBUN KALTIM/TRINILO UMARDINI
Bri Akpina menjahit di ruang kerjanya di bilangan Balikpapan Baru. Memanfaatkan Layanan Gaya Hidup Digital Telkomsel di Tengah Pandemi Covid-19 ala Penjahit Masker. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Memanfaatkan layanan gaya hidup digital Telkomsel di tengah pandemi Covid-19 ala penjahit masker.

Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan segala sektor kehidupan. Setelah masalah kesehatan menjadi hal utama, menyusul perekonomian berada di titik nadir. PHK besar-besaran terjadi dari perusahaan skala kecil hingga multinasional.

Sejumlah negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, dan Jepang sudah masuk ke jurang resesi. Indonesia pun tak luput dari fase resesi karena ekonomi kuartal III dipastikan minus. Tak ayal kehidupan sebagian besar masyarakat menjadi kian sulit.

Mendadak, orang kaya jatuh miskin. Orang miskin lama tambah terpuruk. Orang dengan profesi mentereng macam pilot pun banyak yang menganggur. Kini semua berusaha bertahan hidup di tengah sulitnya masa pandemi. Kendati demikian, selalu ada secercah harapan. Untuk selalu berusaha dan bangkit.

Di celah kesulitan ini, Telkomsel mengambil peran untuk membangkitkan perekonomian di antaranya dengan layanan gaya hidup digital menuju penguatan ekosistem industri 4.0.

RUMAH panggung kayu berukuran 4x10 meter persegi itu terletak di Dusun Somber, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara. Permukiman ini lumayan padat dengan rumah saling berdempetan. Berdiri di atas perairan Teluk Somber yang dikelilingi hutan mangrove. Saban pagi atau sore, sering terlihat bekantan berloncatan di atas pohon mencari makan.

Bercat merah muda, sebuah spanduk terpasang di dinding atas bertuliskan, Gubuk Hawa: Menerima jahitan, permak, obras, seragam, gamis. Juga bimbingan belajar calistung tingkat Sekolah Dasar.

Di ruang tamu seluas 3x4 meter tersebut, Ida Mayang Sari dan sang suami, Yogi Dewantara tengah berjibaku dengan kain. Di lantai kayu beralas karpet plastik, Ida menyusun potongan kain berwarna kuning untuk seragam pesanan sekolah swasta. Sedang Yogi, menggunting potongan pola masker di kain hitam.

Ida Mayang Sari dan suaminya, Yogi melakukan pekerjaan jahit-menjahit di ruang tamu yang berfungsi sebagai ruang kerja.
Ida Mayang Sari dan suaminya, Yogi melakukan pekerjaan jahit-menjahit di ruang tamu yang berfungsi sebagai ruang kerja. (TRIBUN KALTIM/TRINILO UMARDINI)

Ruang tamu itu memiliki fungsi ganda. Sebagai ruang santai bersama keluarga sekaligus tempat bekerja pasangan suami-istri itu saat melakukan kegiatan jahit-menjahit.

Sebuah televisi layar datar terpasang di dinding, satu unit mesin jahit hitam Singer tua dan satu unit mesin obras melengkapi ruang kerja tersebut.

Meja-meja kecil dan kontainer plastik, wadah perkakas jahit seperti benang, jarum, gunting, pendedel, dan lain sebagainya tersimpan di bawah kolong meja.

Sejatinya, Ida Mayang Sari adalah guru honorer (Sekolah Dasar) Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MI NU) selama tiga tahun ini, mulai 2017. Namun sejak 2014, Ida telah membuka jahitan di rumah kontrakannya.

“Nggak sengaja, karena tante mertua punya mesin jahit Singer jadul tak terpakai. Terus dibayarin Rp 250 ribu, niatnya sih cuma jahit-jahit celana atau baju robek sendiri. Jahitnya juga masih pakai pedal manual,” tutur Ida Mayang Sari, wanita kelahiran Balikpapan, 8 Agustus 1988.

Ia belajar menjahit secara otodidak dari ibunya yang dulu pernah bekerja di konveksi dan tetangga yang bisa menjahit. Bertanya tentang pola badan dan ikut grup-grup jahit di Balikpapan yang biasanya berkomunikasi lewat WhatsApp atau pertemuan sekali sebulan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved