Breaking News:

Tiga Jurus Jitu Menghadapi Covid-19

INILAH jurus jitu menangkal Covid-19. Dibilang baru, nyatanya tak asing di telinga. Dikatakan lama, nyatanya belum lama dirilis. Kita simpulkan saja,

ist
Tiga Jurus Jitu Menghadapi Covid-19 

Dus, semua itu, tidak akan berfungsi maksimal kalau perut kosong. Katakan pula, semua syarat tadi terpenuhi, tidak akan produktif kalau kehilangan kegembiraan, stres, kurang olahraga dan rajin begadang. Karenanya urusan ini pun juga ditambahkan kata wajib.

Contoh paling sederhana, kaum berada yang mampu mencukupi nutrisinya dengan makan steak, salad, dan lain-lain. Dia tetap saja rentan, manakala dalam tata pergaulan mengabaikan protokol kesehatan. Contoh lain yang lebih konkret adalah sejumlah negara maju dan berpenghasilan ekonomi papan atas (dengan kasus corona tinggi). Di sana, persoalan nutrisi rendah relatif minim.

Minim pula persoalan dengan urusan perut. Mengapa angka covid-19 tinggi? Lebih karena kebiasaan mereka hang-out, bergerombol dan mengabaikan protokol kesehatan. Contoh lebih dekat di Jakarta. Kenapa banyak klaster baru di perkantoran? Sederhana saja penjelasannya. Banyak kaum pekerja berangkat subuh pulang malam. Di kantor berada pada ruang ber-AC. Stres dengan pekerjaan.

Makan terkadang pesan junk food secara daring. Pulang malam sudah letih, terkadang masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor atau problem lain di rumah.

Tidak sempat olahraga. Tentu saja, tipikal seperti ini rentan terpapar virus. Apalagi yang berangkat-pulang mayoritas menggunakan kendaraan umum.
Sungguh berbeda dengan Doni Monardo. Kebetulan berlatarbelakang prajurit Kopassus. Hidup disiplin, termasuk dalam hal olahraga, dipraktikkan sebagai sebuah habbit atau kebiasaan.

"Mematuhi protokol kesehatan bukan berarti ada jaminan bebas dari serangan covid, apalagi jika kita abai dan lalai. Dalam hal ini semua protokol itu menjadi keharusan, bukan lagi ajakan atau himbauan. Ia menjadi sesuatu yang wajib," tegas Doni.

Dalam banyak kiprah teritorial sebagai panglima, Doni meninggalkan jejak-jejak “nutrisi” bagi masyarakat. Contoh, pengembangan emas hijau dan emas biru. Emas hijau adalah segala budidaya dan pengolahan hasil kekayaan alam berupa tumbuh-tumbuhan atau pepohonan. Sedangkan emas biru, segala budidaya dan pengolahan serta pengembangan hasil laut.

Masyarakat bukan saja sehat dan terjaga nutrisinya, tetapi juga sejahtera berkat emas hijau dan emas biru yang dirintisnya. Jika Anda bertanya, kapan seorang Doni Monardo bersenang-senang? Kata lirik lagu syahdu, “bahagia itu sederhana”. Sesederhana itu pula Doni bisa merasa senang dan bahagia.

Sekadar menyebut contoh, selama tidur di kantor mulai hari Minggu hingga Jumat, Doni akan bersenang hati manakala bisa melakukan vidcall dengan cucu tersayang, setidaknya menonton ulang video-video pendek cucunya yang tersimpan di hapenya.

Nah, mari ber-“iman-aman-imun” dengan hati gembira. Intinya, jangan ditanya bagaimana caranya. Orang kita paling pandai menciptakan kegembiraan. Main tebak pelat nomor kendaraan yang lewat saja sudah bisa bikin hati bahagia. Ingat, semua itu sudah menjadi keharusan, sesuatu yang wajib, yakni 3 W (Wajib Iman, Wajib Aman, Wajib Imun) demi Menghindari Covid 19.(tribunners)

Oleh: Egy Massadiah,
Staf Ahli Kepala BNPB

Tags
Opini
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved