Breaking News:

Usulan Hari Paleoantropologi Indonesia

INDONESIA telah mencatatkan tinta emas untuk seorang pionir Eugène Dubois. Eugène Dubois dilahirkan pada 28 Januari 1858 di Kota Eijsden, Belanda

Beberapa tahun berikutnya, temuan-temuan ini telah diidentifikasi sebagai Homo sapiens yang berantikuitas sekitar 40.000 tahun yang lalu, dan dianggap semasa dengan temuan di Gua Niah (Serawak, Malaysia); namun sekarang, pertangggalan absolutnya hanya 6.560 – 10.560 Sebelum Tarikh Masehi.

Sebenarnya pandangan awal pernah diutarakan Eugène Dubois, manusia Wajak ini mengesankan secara garis besar jauh dari karakteristik “tipe Melayu” (Malay type), namun mendekati karakteristik “tipe Papua” (Papuan type).

Temuan-temuan ini tetap sangat penting karena merupakan temuan Homo sapiens yang tertua di Indonesia saat itu. Bukti-bukti arkeologisnya makin menegaskan temuan ini berasal dari situs kubur Mesolitik (Pleistosen Akhir – Holosen Awal).

Beberapa ahli telah menduga nanusia Wajak ini beras Australomelanesoid, yang terus mengalirkan gen-gennya melalui migrasi ke wilayah bagian selatan Jawa Timur, dan terus ke situs-situs gua Flores, Timor, dan mencapai Australia.

Pemaparan Manusia Wajak juga telah dihubungkan dengan temuan-temuan Homo sapiens awal di Gua Niah (Serawak, Malaysia) dan Daratan Cina, khusunya Liujiang.

Upaya lain juga telah dilakukan oleh beberapa penganut multiregional evolution yang mengajukan adanya continuous lineage dari Pithecanthropus (Homo) erectus via Solo dan Wajak sampai manusia resen Australia.

Oleh karena itu, temuan manusia Wajak tersebut menjadi objek spekulasi banyak para ilmuwan untuk menghubungkan dengan temuan-temuan hominid yang lebih tua dan manusia modern beserta lingkungan, kebudayaan dan migrasinya.

Eugène Dubois tiba dan memulai aktifitas ekskavasi di Wajak pada 9 Juni 1890. Dalam tahun yang sama di ujung September, Manusia Wajak yang kedua ditemukan walaupun relatif fragmenter dan terbalut matriks kerasnya.

Beliau tercengang, seperti mengingatkan kembali kepada temuan sebelumnya, ternyata memang temuan ini berkarakteristik morfologis sama.
Dalam bulan berikutnya – Oktober – ditemukan sisa-sisa rangka hampir lengkap seorang manusia di sebuah ceruk, bersama fragmen-fragmen beragam mamalia.

Pemetaan ekskavasi ini telah dikerjakan oleh asistennya, de Winter. Koleksi Wajak ini yang juga meliputi temuan-temuan dari situs Gua Jimbe, Gua Hoekgrot dan Gua Kecil, telah diteliti ulang sebagai penelitian disertasi oleh Paul Storm, dan diterbitkan sebagai “The Evolutionary Significance of the Wajak Skulls” (1995) oleh Nationaal Natuurhistorisch Museum, Leiden.

Halaman
1234
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved