Breaking News:

Peran Santri di Masa Krisis

PERINGATAN hari santri tahun ini terasa berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh situasi pandemik Covid-19

Krisis multisektor
Indonesia dewasa ini memasuki periode sulit. Bukan saja karena pandemik yang meremukkan berbagai sektor kehidupan dan belum bisa diprediksi kapan akan berakhir, tapi juga ancaman, gangguan, hambatan, serta tantangan (AGHT) yang sebelumnya sudah eksis dan masih belum bisa diatasi sepenuhnya sampai saat ini.

Dalam konteks ideologi, masih ada pihak-pihak yang mempertentangkan antara negara dan agama. Hal ini merupakan residu dari formulasi dasar negara di masa lampau. Padahal sudah sangat jelas bahwa Pancasila secara eksplisit meletakkan nilai ketuhanan sebagai sila pertama yang mendasari sila-sila selanjutnya dalam Pancasila.

Masih dalam bingkai ideologi, masyarakat Indonesia juga masih dibekap rasa takut akan kemungkinan bangkitnya komunisme. Ketakutan akan komunisme semakin memuncak tatkala ada pihak-pihak yang mengamplifikasi ketakutan ini setiap peringatan G30S/PKI pada 30 September. Situasi ini tidak dimungkiri menimbulkan suasana yang tidak kondusif dan dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam konteks politik dan hukum, situasi Indonesia hari ini tidak bisa dikatakan bebas dari krisis. Politik yang sejati-nya good life and good for mankind, masih dimaknai oleh beberapa pihak sebagai sarana perebutan kedudukan dan kekuasaan; how to gain and retain the power. Sebagai konsekuensi-nya, upaya mewujudkan tujuan nasional, yakni masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera tidak bisa segera terlaksana.

Mereka yang duduk di panggung kekuasaan dan di luar kekuasaan seperti oposisi dan kelompok masyarakat sipil masih belum satu perspektif dan visi dalam mengolah perbedaan agar menjadi satu kekuatan positif yang mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Di level ekonomi, kita harus jujur bahwa upaya mewujudkan cita-cita kemandirian ekonomi dan berkhidmat pada prinsip ekonomi Pancasila atau ekonomi kerakyatan masih merupakan jalan panjang untuk diwujudkan secara paripurna. Kita masih tergoda untuk berjalan pada pola pikir kapitalistik yang senyata-nya tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa.

Pandemik Covid-19 menjadi fenomena gunung es atas berbagai krisis yang sudah menerpa sebelumnya. Kehadiran pandemik yang menghantam tanpa pandang bulu; tak peduli agama, status sosial, kaya atau miskin, telah menghadirkan ujian keras bagi ketahanan nasional.

Pandemik benar-benar menguji apakah para elite bangsa telah berkhidmat pada prinsip yang digariskan konstitusi (kebijakan yang konstitusional), apakah pola ekonomi yang dijalankan telah sejalur dengan prinsip ekonomi Pancasila dan kerakyatan, apakah masyarakat Indonesia masih memegang erat tradisi paguyuban atau gotong royong dalam kehidupan mereka.

Secara singkat, pandemik Covid-19 menjadi momentum penggugah kesadaran bangsa Indonesia apakah telah berkhidmat pada nilai-nilai budayanya dalam menjalankan praktik politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, atau justru sebaliknya.

Modalitas kaum santri
Deskripsi berbagai persoalan di atas menjadi tantangan yang tak mudah untuk dijawab oleh kaum santri di masa kini, termasuk juga segenap elemen bangsa lainnya. Masing-masing sektor kehidupan memiliki kompleksitas permasalahannya sendiri-sendiri, bahkan terhubung satu sama lain.

Halaman
1234
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved