Breaking News:

Peran Santri di Masa Krisis

PERINGATAN hari santri tahun ini terasa berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh situasi pandemik Covid-19

Perjuangan pada masa revolusi fisik dengan mengusir Belanda dan sekutu sejujurnya lebih mudah karena yang menjadi musuh sangatlah jelas; Belanda dan Inggris sebagai kekuatan kolonial. Dewasa ini, lawan bersifat asimetris dan sulit dipetakan, serta bergerak dalam lajur multidimensi. Covid-19, misalnya, meskipun berdimensi fisik, akan tetapi sungguh tak mudah dihadapi karena ukurannya yang sangat kecil. Belum lagi dampaknya yang luar biasa terhadap berbagai sektor kehidupan.

Namun demikian, terlepas dari berbagai kompleksitas dan kerumitan permasalahan yang ada, kaum santri memiliki modalitas yang sangat besar untuk berkontribusi menghadapi krisis yang ada.

Modalitas pertama yang dimiliki adalah pemahaman yang matang dan komprehensif akan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Bagi kaum santri, pertentangan antara negara dan agama sudah selesai ketika Pancasila sebagai dasar negara berhasil dirumuskan. Pancasila sebagai ideologi telah mengakui nilai ketuhanan sebagai unsur vital dan determinan utama dalam menjalankan praktik kebangsaan dan kenegaraan.

Prinsip inilah yang mendorong kaum santri dan ulama di masa silam untuk bahu-membahu mengangkat senjata melawan penjajah. Prinsip dan keyakinan tersebut jugalah yang menjadi pijakan bagi kaum santri untuk terus berkontribusi bagi pembangunan nasional hingga hari ini. Pemahaman yang matang inilah yang hendaknya ditularkan oleh para santri dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui media sosial. Hal ini dapat mencegah segregasi bangsa yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang tak hendak Indonesia menjadi negara yang damai dan sejahtera.

Modalitas kedua adalah nilai-nilai kedisiplinan yang tinggi dalam laku hidup sehari-hari. Kedisiplinan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan para santri. Kedisiplinan merupakan hal yang sangat mahal mengingat tak semua orang mampu berdisiplin dalam hidup, apalagi prinsip.

Pandemik Covid-19 menjadi momentum penegas bahwa kedisiplinan menjadi senjata utama para santri dalam memerangi pandemik. Mereka tidak hanya konsisten dan persisten dalam mematuhi protokol kesehatan seperti selalu mencuci tangan, menggunakan masker, hingga melakukan pembatasan jarak dan sosial, tapi juga mampu menjadi teladan dan menginspirasi masyarakat sekitar untuk displin mematuhi protokol kesehatan tersebut.

Inilah yang menjadi kausa mengapa banyak pondok pesantren yang telah berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, serta penanganan dampak pandemik Covid-19.

Modalitas yang ketiga adalah komitmen yang kuat untuk menyelaraskan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dengan keimanan dan ketaqwaan (Imtaq). Perkembangan Iptek dewasa ini sungguh-lah pesat, apalagi dikatalisasi oleh globalisasi dan revolusi 4.0. Dengan Iptek yang tinggi, segala kebutuhan dapat dipenuhi secara praktis dan efisien.

Di era pandemik ini, misalnya, setiap negara berlomba-lomba untuk menemukan obat dalam menangani Covid-19. Namun demikian, Iptek yang dikembangkan tak akan membawa kemaslahatan apabila tidak diimbangi dengan penguatan Imtaq. Tanpa Imtaq yang baik, obat Covid-19 dapat dikomersialisasi dan dikomodifikasi bagi kepentingan segelintir pihak yang menemukan.

Tanpa Imtaq yang baik, kemajuan Iptek dapat disalahgunakan untuk mencapai keuntungan dengan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan. Inilah yang menjadi modalitas penting yang dimiliki oleh kaum santri dalam mengawal kontribusi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Halaman
1234
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved