Breaking News:

Kampanye dan Perang Opini di Medsos saat Pilkada 2020

MASIH belum lepas dari ingatan kita hiruk pikuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Perang opini atau adu argumentasi antarpendukung

Editor: Tohir
Ilustrasi
Kampanye dan perang opini 

MASIH belum lepas dari ingatan kita hiruk pikuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Perang opini atau adu argumentasi antarpendukung dua kandiat di media sosial begitu luar biasa ramainya. Meskipun, terkadang sangat disayangkan banyak hoax dan ujaran kebencian bermunculan.

Komunikasi politik melalui dunia maya atau medsos memang dinilai efektif untuk sosialisasi dan berkampanye. Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 ini pun, pola kampanye melalui medsos menjadi pilihan para kandidat dan tim pemenangannya untuk menarik suara, khususnya dari kalangan milenial.

Medsos memang punya pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat, terutama saat pilkada serentak yang berlangsung di masa pandemi Covid-19. Ini bisa kita lihat dari data tentang apa yang paling banyak dipakai di medsos. Pertama, orang saat ini paling banyak melihat Youtube, kemudian Facebook, Instagram, dan Twitter.

Semua platform medsos tersebut menjadi konsumsi hampir setiap hari, khususnya oleh generasi milenial atau pemilih pemula. Mereka banyak mencari informasi dari media sosial. Di era medsos, bergabung dengan komunitas bisa dilakukan dengan cara digital, seperti masuk ke grup-grup WhatsApp, Facebook atau medsos lainnya.

Persoalannya, adalah karena media digital dianggap lebih penting dalam kontes politik saat ini, muncul upaya-upaya untuk merekayasanya. Dari situ, banyak bermunculan konten yang tidak sehat. Terlihat adanya perang opini antarpendukung kandidat di medsos.

Dalam demokrasi, adu opini atau debat untuk meyakinkan masyarakat pemilih merupakan hal yang wajar. Asalnya, dalam perang opini tidak saling menjatuhkan, menjelek-jelekkan, bahkan ada indikasi pencemaran nama baik.

Sejak medsos dikenal menjadi sarana berkomunikasi politik di Indonesia, sekitar era 2014, masyarakat secara bertahap sudah belajar. Sehingga kini banyak gerakan menangkal serangan hoax dan berbagai inisiatif untuk cerdas bermedsos. Bahkan ada kampanye melawan hoax.

Sebenarnya, kampanye di medsos bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Melainkan tetap harus ditopang strategi kampanye darat yang efektif. Di era Pilkada 2020, medsos dan media mainstream masih sangat diperlukan untuk membangun kekuatan brand.

Kampanye secara cerdas dan massif penting dilakukan oleh kandiat kepala daerah dan tim pemenangnya agar bisa menyentuh rasa empati pemilih yang tidak mudah goyang oleh politik uang.

Seperti diketahui, pelaksanaan Pilkada serantak 2020, termasuk di Kalimantan Timur 9 Pilkada dan Kalimantan Utara 5 Pilkada berlangsung saat pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan sosialisasi tatap muka tidak bisa dilakukan secara massif. Selain aturan Protokol Kesehatan yang sangat ketat, para kandidat juga tidak bisa leluasa bertemua dengan konstituennya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved