Breaking News:

Kampanye dan Perang Opini di Medsos saat Pilkada 2020

MASIH belum lepas dari ingatan kita hiruk pikuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Perang opini atau adu argumentasi antarpendukung

Ilustrasi
Kampanye dan perang opini 

Strategi peperangan para kandidat tidak bisa berjalan. Namun, tentunya mesin politik partai dan tim pemenangan tidak bisa diam begitu saja atau berharap dari Dewi Fortuna.

Dalam kondisi pandemi, para pendukung bakal calon kepala daerah tidak perlu terlalu memaksakan diri melakukan kampanye tatap muka yang terkadang mengabaikan Protokol Kesehatan.

Kampanye Dunia Maya
Bagaimana solusinya? Kampanye masih dilakukan oleh para tim pemenangan dengan memanfaatkan dunia maya atau medsos. Namun, menghindari perang opini antarkandidat yang terkadang tidak bisa terkendali, sebaiknya kita harus bijak ketika berkampanye di medsos.

Dengan adanya ruang yang begitu terbuka di medsos untuk kampanye atau sosialisasi, para kandidat harus bisa memanfaatkannya secara baik. Caranya, menyampaikan pesan yang mudah dipahami oleh masyarakat pemilih.

Dalam Pilkada, suara setiap pemilih mempunyai nilai yang sama, baik itu pemilih pemula maupun pemilih militan. Kuantitas pemilih lebih menentukan dibandingkan dengan kualitas pemilih. Untuk bisa meraup suara yang besar, strategi harus diarahkan untuk membidik sasaran pemilih dalam jumlah besar.

Kampanye di dunia maya bisa menjadi mata rantai penting untuk menyebarkan keunggulan, memetakan kekuatan, melihat kelemahan lawan, serta menyebar pesan calon kepala daerah. Di era pandemi seperti sekarang ini, kampanye melalui medsos yang dikelola dengan baik tidak kalah pentingnya saat kampanye tatap muka.

Sebaliknya, jika pengelolaan model kampanye di medsos kurang baik, biarpun dilakukan secara massif justru bisa menjadi boomerang bagi sang kandidat. Hal ini kadang dimanfaatkan lawan politik untuk balik menyerang.

Perlu cara yang tepat saat kampanye di medsos. Bagaimana mengolah pesan dengan sederhana dan langsung mengenai sasaran pemilih. Karena secanggih apapun tools yang dipakai, pasti tidak akan efektif jika tidak ditopang oleh strategi mengemas konten dan menyebarkan narasi dengan tepat.

Prinsip kampanye kan menyampaikan pesan politik kepada masyarakat. Pertemuannya sendiri adalah wadah untuk menyampaikan pesan sementara pilihan wadahnya banyak jenis dengan pola dan kreasi inovatif bermacam bentuk. Jadi melarang pertemuan bukanlah melarang kampanye, tapi hanya memilih bentuk lainnya.

Nah, saat ini tahapan pilkada sudah memasuki debat publik atau debat terbuka antarkandidat. Berbeda dengan pilkada sebelumnya, di masa pendemi ini debat kandidat serba dibatasi. Yang terlibat langsung dalam debat publik hanya Komioner KPU, Bawaslu, Panelis serta pasangan calon.

Halaman
123
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved