Breaking News:

Kampanye dan Perang Opini di Medsos saat Pilkada 2020

MASIH belum lepas dari ingatan kita hiruk pikuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Perang opini atau adu argumentasi antarpendukung

Ilustrasi
Kampanye dan perang opini 

Selebihnya masyarakat pemilih dan pendukung hanya bisa menyaksikan melalui layer televisi atau video Youtube dari rumah masing-masing. Di sinilah, diperlukan ide kreatif dari tim kampanye untuk bisa mengolah isi dari debat publik ke masyarakat melalui media sosial.

Memang, tim kampanye dituntut lebih kreatif dan inovatif membuat konten dan metode efektif berkampanye di tengah pandemi terutama di platform media sosial. Caranya banyak, bisa dengan meng-post informasi-informasi penting, visi misi, maupun kegiatan calon.

Model kampanye yang luar biasa dan metode “door to door” masih menjadi pilihan terbaik dalam kampanye di tengah pandemi. Karena kampanye bisa digelar dalam suasana kekeluargaan, sangat pribadi, dan bebas mengeluarkan jurus-jurus meyakinkan pemilih tanpa gangguan dari calon lain atau tim kampanye lainnya.

Banyak cara menuju ke Roma. Artinya banyak startegi kampanye yang bisa dilakukan oleh kandidat bersama tim kampanye untuk bisa meraih kemenangan dalam pilkada. Tentunya cara yang aman dan sehat dari pandemic Covid-19, yakni kampanye di dunia maya (medsos).

Perang opini di medsos silakan, asal positif tidak saling serang dan menjatuhkan lawan. Mari bijak dalam kampanye. Bawaslu bersama aparat penegak hukum dalam hal ini Kepolisian selalu mengawasi aktivitas kampanye di media sosial. (*)

Oleh: Sumarsono, S. Sos
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalimantan Timur

Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved