Breaking News:

Simalakama yang Memakan "Tumbal"

BAK menghadapi buah simalakama. Dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Itulah situasi dan kondisi yang dihadapi Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sud

ist
ist 

BAK menghadapi buah simalakama. Dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Itulah situasi dan kondisi yang dihadapi Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudi Sufahriadi. Akibatnya, mereka menjadi "tumbal" atau korban, dicopot dari jabatan.

Tidak itu saja. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto dan Kapolres Bogor Roland Rolandy juga menjadi "tumbal". Keempatnya dicopot karena dinilai gagal menegakkan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 di wilayah masing-masing.

Meski tak disebut secara gamblang, namun pencopotan ini diduga terkait safari ceramah Habib Rizieq Syihab (HRS) yang mengundang kerumunan massa di Tebet, Jakarta Selatan, dan Megamendung, Bogor, Jawa Barat, Jumat (13/11/2020), serta Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (14/11/2020).

Sebelumnya, massa juga berkerumun di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (10/11/2020), saat penyambutan kedatangan HRS dari Arab Saudi. Pencopotan dua perwira tinggi dan dua perwira menengah Polri ini berdasarkan Surat Telegram Rahasia (STR) Kapolri Nomor: 3222/XI/Kep/2020 tertanggal 16 November 2020.

STR ini tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Polri.
Siapa menyusul? Kapolda Banten mungkin sedang ketar-ketir dan menghitung hari. Begitu pun Kapolres Jakarta Selatan. Apalagi di Banten, kerumunan massa lebih parah, sampai-sampai sempat melumpuhkan bandara beberapa jam. Banyak pula mobil parkir di jalan tol.

Bersamaan dengan pencopotan, Kapolri Jenderal Idham Azis memerintahkan seluruh Kapolda untuk memperhatikan penerapan Prokes Covid-19 di wilayah masing-masing. Jika ada pelanggar, Kapolri meminta untuk ditindak tegas. Hal tersebut tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor S/3220/XI/KES 7/2020 tertanggal 16 November 2020.

Sebelumnya, Kapolri sudah menerbitkan Maklumat Nomor Mak/2/III/2020 untuk menegakkan Prokes Covid-19. Entah apa yang berkecamuk dalam benak para perwira polisi itu sebelum dicopot. Yang pasti, mereka menghadapi dilema.

Bila pelanggar protokol yang berasal dari ormas Islam itu ditindak tegas, maka akan memunculkan isu sensitif, misalmya memusuhi umat Islam atau bahkan melakukan kriminalisasi ulama.

Sedangkan bila tidak ditindak, maka akan mendapatkan sanksi dari atasan. Jabatan taruhannya. Terbukti kemudian mereka benar-benar mendapat sanksi, yakni dicopot dari jabatan.

Mungkin para pelanggar prokes itu saat ini sedang tertawa. Mereka telah berhasil mengerjai bahkan mengadu domba polisi. Tidak hanya itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan HRS juga dipanggil Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri untuk diperiksa terkait dugaan pelanggaran Prokes Covid-19 dalam acara di kediaman HRS. Akankah Anies juga menjadi "tumbal"? Kementerian Dalam Negeri sedang menunggu hasil pemeriksaan Anies oleh Bareskrim untuk menentukan sanksi.

Halaman
12
Tags
Opini
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved