Breaking News:

Waspadai Hoax dan Serangan Buzzer Jelang Pencoblosan

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) 2020 diprediksi masih tidak lepas dari hingar bingar dari serangan para buzzer dari pasangan calon dan berita hoax d

Ilustrasi aplikasi sosial media 

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) 2020 diprediksi masih tidak lepas dari hingar bingar dari serangan para buzzer dari pasangan calon dan berita hoax di media sosial, terutama nanti mendekati pencoblosan. Fenomena perang udara seperti yang terjadi pada Pemilu Legislatif dan Pilres 2019 akan terulang pada pilkada tahun ini.

Menariknya, menurut Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Dr Alfitra Salamun, berdasarkan survei diketahui ternyata kelompok generasi tua paling banyak melakukan penyebaran hoax saat pilkada.

“Karena selain terbawa perasaan (baper), generasi tua ini lebih larut dalam perasaan (laper). Berbeda dengan anak-anak muda atau milenial yang tidak mudah baper. Sehingga para orang tua lebih sua menyebar berita hoax tanpa klarifikasi terlebih dahulu,” ujar Dr Alfitra sat diskusi bersama media di Hotel SwisBell Balikpapan, belum lama ini.

Penggunaan media sosial bagi kalangan generasi muda jauh lebih baik dari generasi tua, terutama dalam hal penyebaran hoax. Dalam istilah, penyebab munculnya hoax itu karena adanya misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.

Dalam pelaksanaan Pilkada serentak 2020 yang puncaknya pada 9 Desember mendatang, masyarakat harus lebih mewaspadai adanya serangan hoax, baik itu yang ditujukan kepada paslon tertentu maupun KPU dan Bawaslu selalu penyelanggara pilkada.

Pemerhati Sosial Politik, Rizal Arifin, menyebut media sosial memungkinkan para netizen untuk berbagi beragam konten, berita dan informasi. Namun, tidak semua netizen paham soal etika jurnalistik atau melek literasi digital. Opini dibuat hanya berdasar asumsi yang minim fakta dan data. (infodenpasar.id)

Berita yang membuat hati senang dan puas saat membacanya langsung disebar begitu saja tanpa dicek kebenarannya. Hal tersebut akan berdampak terhadap meningkatnya penyebaran hoax di media sosial, khususnya pada momentum Pilkada 2020.

Tingginya pengguna media sosial di Indonesia, turut meningkatkan risiko penyebaran hoax. Akibatnya, simpang siur berita di media sosial tak jarang menjadi ajang debat kusir berkepanjangan antar kubu paslon dalam mencerna satu berita.

Tensi penyebaran hoax akan semakin masif mendekat hari pencoblosan atau pada masa tenang. Informasi hoax yang disampaikan pun beragam, bahkan tak sedikit mengutif berita-berita dari media online. Terkadang judul beritanya mencengangkan, dengan konten yang menimbulkan keresahan, prasangka dan keraguan.

Mantan Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini menyampaikan, setidaknya ada tiga faktor yang membuat subur munculnya hoax di media sosial, yaitu regulasi yang belum menjangkau pemberantasan hoax, pembiaran yang dilakukan oleh pasangan calon, dan lambannya respons dari lembaga penyelenggara pemilu.

Halaman
123
Tags
Opini
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved