Breaking News:

Sinkronisasi Pengembangan Industri Rumput Laut Bagi Kesejahteraan Masyarakat Daerah Pesisir (2)

TANTANGAN pada tahun berikutnya akan semakin berat karena dampak pandemi Covid-19 yang masih belum yakin tertangani secara tuntas hingga akhir tahun

Editor: Tohir
IST
DR Rustam.SE 

TANTANGAN pada tahun berikutnya akan semakin berat karena dampak pandemi Covid-19 yang masih belum yakin tertangani secara tuntas hingga akhir tahun 2020. Indikasi awal menunjukkan bahwa volume produksi rumput laut diperkirakan akan menurun pada tahun 2020 di tengah pandemi Covid-19.

Tujuan lain dari optimalisasi kawasan potensi pengembangan rumput laut adalah peningkatan ekspor. Kinerja ekspor rumput laut Indonesia pada tahun 2018 dalam bentuk bahan mentah (raw materials) menduduki peringkat pertama dunia, yakni mencapai 205,76 ribu ton (dikutip dari Lampiran Perpres No. 33 tahun 2019).

Volume ekspor komoditas perikanan budidaya nasional pada periode 2014-2019 berfluktuasi dan cenderung menurun dengan kontraksi sebesar minus 1,14%, sebaliknya volume ekspor rumput laut pada periode yang sama mengalami pertumbuhan sebesar 0,53%.

Pada periode yang sama, nilai ekspor komoditas perikanan budidaya nasional dan rumput laut mengalami pertumbuhan berturut-turut sebesar 1,64% dan 6,53%. Penurunan volume ekspor komoditas perikanan budidaya tidak diikuti oleh penurunan nilai ekspornya.

Kondisi ini terjadi diduga karena harga komoditas perikanan budidaya dari tahun ke tahun meningkat secara signifikan. Sedangkan peningkatan ekspor rumput laut diikuti juga oleh peningkatan nilai ekspornya. Perkembangan harga yang cenderung meningkat secara signifikan menjadi peluang dan insentif bagi peningkatan volume produksi komoditas perikanan budidaya dan rumput laut. Kesejahteraan Nelayan/Pembudidaya

Mendalami indikator kesejahteraan sering dikontraskan dengan kemiskinan atau ketidakmampuan rumah tangga atau penduduk untuk memenuhi suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan atau memenuhi kebutuhan hidup layak minimum sehari-hari.

BPS merilis terjadi peningkatan data kemiskinan dari 25,14 juta orang (9,41%) pada Maret 2019 menjadi 26,42 juta orang (9,78%) pada Maret 2020. Pada periode yang sama, peningkatan jumlah penduduk miskin di perkotaan (1,17 juta orang) lebih tinggi dibandingkan perdesaan (0,11 juta orang). Namun, persentase penduduk miskin di perdesaan hampir dua kali lipat di perkotaan ( BPS: Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2020, 15 Juli 2020). Menarik untuk mendalami profil rumah tangga miskin.

Hasil rilis BPS mencatat 49,41% rumah tangga miskin menggantungkan hidup dari sektor pertanian pada Maret 2019. Rumah tangga miskin memiliki jumlah anggota keluarga sebanyak 4-5 orang dan cenderung lebih banyak dibandingkan rumah tangga tidak miskin.

Rumah tangga miskin yang dikepalai oleh perempuan tercatat 16,19%. Ada 12,42 persen kepala rumah tangga miskin yang belum bebas dari buta huruf. Dari faktor kesehatan, hanya 66,11% rumah tangga miskin yang sudah menggunakan jamban sendiri.

Berbagai informasi ini menggambarkan ketidakmampuan atau ketertinggalan mereka yang dikategorikan miskin. Dominasi insiden kemiskinan di sektor pertanian diduga cenderung memotret keberadaan mereka di daerah pesisir, tertinggal, maupun perbatasan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved