Breaking News:

Romantika Pasca-Pilkada

SEBUAH pernyataan dari Presiden Pertama Republik Indonesia ini diharapkan selalu menjadi sebuah cambuk peringatan bagi para politikus di negeri ini.

Ist
Ignasius Ryan Gamas, SE M.Si 

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa." ( Bung Karno )

SEBUAH pernyataan dari Presiden Pertama Republik Indonesia ini diharapkan selalu menjadi sebuah cambuk peringatan bagi para politikus di negeri ini. Mengapa harus demikian? Dikarenakan kekuasaan yang ada adalah amanah absolut dari rakyat.

Kita baru saja melaksanakan pesta demokrasi di tengah pandemi Covid 19 saat ini. Pesta demokrasi yang penuh dengan protokol kesehatan di tanggal 9 Desember 2020 menjadi ajang untuk memilih calon kepala daerah secara serentak. Setiap calon kepala daerah telah melalui berbagai tahapan sehingga layak untuk mengikuti pertarungan politik.

Yang cukup menarik kita bahas adalah setiap calon kepala daerah tentu memiliki berbagai macam latar belakang para simpatisannya. Baik melalui jalur kepartaian maupun jalur independen. Dari semua jalur yang digunakan, tentu tetap menjadi satu kesatuan sebagai anak bangsa, tidak dapat dipisahkan berdasarkan siapa calon yang didukung.

Pasca-pelaksanaan pemilihan calon kepala daerah secara serentak, tentu para kontestan maupun simpatisannya sedang harap-harap cemas menunggu hasil rekapitulasi resmi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah. Banyaknya hasil quick count dari lembaga survei maupun dari intenal tim sukses yang beredar pasca pemilihan, tentu menjadi permasalahan tersendiri. Para pendukung saling mengklaim kemenangan untuk jagoan yang dipilihnya dan ini berpotensi menjadi tembok pemisah di masyarakat.

Beredarnya hasil quick count di media sosial dan bagaimana kita bisa melihat engagement atau tingkat interaksi tentu menjadi kekhawatiran tersendiri. Para simpatisan saling beradu argumen untuk menunjukan rasa kejumawaan maupun saling tuding kecurangan. Hal ini harus menjadi sebuah perhatian serius, jangan sampai pemilihan kepala daerah yang kita anggap sebagai pesta rakyat, malah menjadi sebuah permasalahan baru.

Kedewasaan para calon kepala daerah sangat menentukan saat ini untuk saling menahan diri dan memberikan kesejukan bagi para simpatisannya, di samping menunggu hasil rekapitulasi resmi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah. Siapapun yang terpilih nanti merupakan representasi dari rakyat dan harus didukung demi kemajuan bersama.

Di sinilah kita menunggu romantika pasca-pilkada, kepala daerah yang terpilih nanti harus mampu mewujudkan persatuan dan kesatuan di masyarakat. Bukan hanya kepentingan ego sektoral dan menguntungkan sebagian pihak saja yang mendukungnya saat pemilihan. Masyarakat membutuhkan sebuah konsep dan kerja nyata dalam menyikapi kondisi saat ini, terutama dalam pemenuhan layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan, infrastruktur serta pelayanan publik.

Kepala daerah dituntut pula untuk menciptakan kondusifitas di masyarakat, bagaimana bisa merangkul seluruh elemen masyarakat dan bahu-membahu memperbaiki secara bersama-sama kondisi psikologi pasca-pilkada. Mungkin salah satunya dengan cara rembug masyarakat untuk menyamakan tujuan pembangunan ke depan dengan melibatkan para kompetitor pada saat pilkada kemarin.

Tentu ini menjadi sebuah kunci dari komitmen dalam membangun daerah tanpa membedakan warna pilihan politik. Sesuai dengan sila ketiga Pancasila yaitu "Persatuan Indonesia", maka diharapkan kita dapat bergandengan tangan untuk bersama-sama membangun daerah dan negara tanpa membeda-bedakan.

Halaman
12
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved