Breaking News:

Restrukturisasi Kredit Sepanjang 2020 Hanya Capai 18 Persen dari Total Kredit

Ekonomi Indonesia diperkirakan akan lebih baik pada kuartal IV 2020 berkat kebijakan fiskal dan moneter yang responsif dan akomodatif. Hal ini diungk

Penulis: Heriani AM | Editor: Rahmad Taufiq
TRIBUNKALTIM.CO/HERIANI
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam Pembukaan Perdagangan BEI 2021, Senin (4/1/2020) secara daring. TRIBUNKALTIM.CO/HERIANI 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Ekonomi Indonesia diperkirakan akan lebih baik pada kuartal IV 2020 berkat kebijakan fiskal dan moneter yang responsif dan akomodatif.

Hal ini diungkap Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2021, Senin (4/1/2020) secara daring.

Ia menyebut, restrukturisasi kredit sepanjang 2020 tercatat hanya 18 persen dari total kredit.

Baca juga: Mulai Besok! Pemohon Baru dan Perpanjangan SIM Wajib Lampirkan Surat Lulus Uji Psikologi

Baca juga: Terkapar di Parkiran Big Mall Samarinda, Seorang Pria Tewas, Diduga Jatuh dari Ketinggian

Baca juga: Kecelakaan Maut di Balikpapan, Tabrakan Beruntun, Satu Tewas Diduga Sopir Mobil Pick Up Mengantuk

Angka tersebut terbilang cukup rendah mengingat besarnya proyeksi pemerintah terhadap restrukturisasi kredit tahun lalu.

"Restrukturisasi kredit yang kami perkirakan tinggi hanya 18 persen dari total kredit," ujar Wimboh.

Selain itu, Peraturan OJK (POJK)nomor 11/POJK.03/2020 yang diperpanjang hingga 2022 juga dinilai cukup membantu dalam proses pemulihan ekonomi.

Dari kebijakan itu, non performing loan (NPL) dapat ditahan hanya 3,18 persen sepanjang 2020.

"Diikuti dengan likuiditas perbankan yang melimpah. Sehingga sinergi itu mempengaruhi ekonomi secara positif. Kami harapkan di kuartal IV menjadi lebih baik," ujarnya.

Baca juga: Pelaku UMKM Dominasi Pengajuan Restrukturisasi Kredit di Balikpapan, Mayoritas di Sektor Perdagangan

Baca juga: Kepala OJK Kaltim Sebut Tren Resktrukturisasi Covid-19 di Kaltim Seiring Dengan Tren Nasional

Baca juga: Bantu Pinjamkan Dana Hingga Miliaran Rupiah, Perusahaan Fintech Danakini Kantongi Izin OJK

Lebih jauh ia menjelaskan, bahwa pasar modal juga telah menunjukkan perbaikan indikator.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah berada di atas level 6.000 dalam beberapa pekan, bahkan sempat di level tertingginya pada 21 Desember di level 6.165.

Di samping itu yang penting nilai surat berharga negara (SBN) satu tahun turun, terendah sepanjang sejarah 3,64 persen ini adalah momentum bangkitnya raising fund pasar modal.

"Terkoreksi year to date-nya 5,09 persen, ini tidak terlalu jelek jika dibandingkan negara tetangga di mana terkoreksi lebih besar lagi," ucapnya.

(TribunKaltim.co/Heriani)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved