Kamis, 7 Mei 2026

Berita Nasional Terkini

Blak-blakan Gus Miftah Pernah Diejek Permadi Arya, Peringatkan Abu Janda Soal NU, Tak Setuju Dihukum

Blak-blakan Gus Miftah pernah diejek Permadi Arya, peringatkan Abu Janda soal NU, tak setuju dihukum

Tayang:
Editor: Rafan Arif Dwinanto
Kolase Tribun Kaltim
Gus Miftah dan Abu Janda alias Permadi Arya 

TRIBUNKALTIM.CO - Gus Miftah, tokoh ulama Nahdlatul Ulama angkat suara soal kasus hukum yang kini menimpa Permadi Arya alias Abu Janda.

Diketahui, Abu Janda dilaporkan atas dua kasus ujaran kebencian, yakni kepada Natalius Pigai dan soal Islam Arogan.

Meski mengaku kecewa kepada Permadi Arya, Gus Miftah berharap proses hukum kepadanya tak dilanjutkan.

Sebelumnya, Gus Miftah pun mengaku pernah diejek oleh Abu Janda lantaran beda pandangan.

Hal itu terkait aksi Presiden Prancis Emmanuel Macron menyikapi pemenggalan guru beberapa waktu lalu.

Sekadar informasi, Permadi Arya sudah sekali menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri.

Baca juga: Rocky Gerung Beri Saran ke Moeldoko Jika Ingin ke Partai Demokrat, Dekati SBY, Etika Politik Buruk

Baca juga: Makin Berani, KKB Papua Terang-Terangan Tantang TNI & Polri Perang, Respon Polda Papua Mengejutkan

Ulama Gus Miftah meluapkan kekecewaannya terhadap pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda.

Meski mengaku kerap berbeda pendapat, Gus Miftah menyebut kasus Abu Janda tak perlu diperpanjang.

Pasalnya, menurut dia, Abu Janda sudah meminta maaf.

Hal itu diungkapkannya dalam kanal YouTube Official iNews, Senin (1/2/2021).

"Saya sampai bilang sama Beliau, saya sebenarnya sering berbeda pendapat dengan Mas Arya," ucap Gus Miftah.

"Tapi saya juga menghormatinya."

Ia pun menceritakan momen saat pernah berbeda pendapat dengan Abu Janda.

Kala itu, Gus Miftah berkomentar tentang kontroversi pemenggalan kepala seorang guru oleh murid di Prancis.

"Contohnya, ketika saya, Presiden Prancis mengatakan Islam agama tertinggal gara-gara terpancing pemenggalan kepala seorang guru oleh seorang siswa gara-gara indikasi menghina Nabi Muhammad SAW," kata Gus Miftah.

"Saat itu, saya minta Presiden supaya memberi komentar."

"Tapi di satu sisi, Mas Arya Permadi malah mengejek."

"Walaupun di satu sisi saya juga sepakat bahwa saya tidak mau mengatakan boikot produk Prancis karena banyak jemaah saya yang kerja di Prancis," tambahnya.

Gus Miftah pun mengakui belum lama ini bertemu dengan Abu Janda.

Dalam kesempatan itu Abu Janda disebutnya sudah mengakui kesalahan.

"Saya bilang semalam sama Beliau 'Mas, kalau soal membangun kontrak narasi, sama, saya juga membangun kontrak narasi'," ucapnya.

"'Cuma mbok ya kalau kamu menganggap guru NU, dibuat yang lebih santun, lebih beradab'."

Lantas, Gus Miftah meluapkan kekecewaannya terhadap Abu Janda.

Ia mengatakan, Abu Janda seolah-olah mewakili suara NU.

Baca juga: Marzuki Alie Tak Tinggal Diam Dituduh Aktor Kudeta Partai Demokrat, Langsung WhatsApp SBY, Buktikan!

"Yang membuat saya kecewa itu, seolah-olah Mas Abu Janda itu mewakili NU," jelas Gus Miftah.

"Dan dia bilang 'Iya gus saya minta maaf, dan saya dalam hal ini tidak mewakili NU'."

"Kalau kemudian saya kecewa, ya pasti saya kecewa"

"Tapi kan ketika dia menjelaskan kemudian dia minta maaf bagi saya clear gitu loh," ucapnya menyudahi.

Ada Dendam ke Abu Janda

Peneliti Drone Emprit Ismail Fahmi mengungkapkan hasil analisisnya terhadap viral cuitan pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda.

Hal itu ia sampaikan dalam tayangan Apa Kabar Indonesia di TvOne, Minggu (31/1/2021).

Diketahui cuitan Abu Janda menjadi viral di media sosial karena diduga menghina suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Baca juga: Kasus Asabri, Mahfud MD Diancam Dilaporkan ke Polisi, Kini Pengancam Menkopolhukam Jadi Tersangka

Terbaru, ia menyebut agama Islam sebagai arogan.

Menanggapi hal itu, Ismail Fahmi menganalisis bagaimana awal mula cuitan Abu Janda menjadi viral dan banyak dikomentari warganet.

"Topik tentang Permadi Arya ini fokusnya masih ke Permadi Arya saja," papar Ismail Fahmi.

Ia membandingkan dengan unggahan Ambroncius Nababan yang sebelumnya juga melakukan dugaan ujaran kebencian SARA terhadap Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai.

Dalam kasus tersebut, fokus pembicaraan warganet mengarah ke ujaran kebencian terhadap masyarakat Papua.

"Berbeda dengan yang Ambroncius, itu arahnya ke Papua karena yang disampaikan jelas ada ujaran terhadap Pigai," terang Ismail.

Sementara itu, perbindangan tentang Abu Janda hanya fokus pada cuitannya saja.

Ismail kemudian menduga penyebab banyaknya komentar terhadap cuitan Abu Janda bersumber dari kekesalan warganet.

"Permadi Arya ini kalau saya lihat dari tren itu ada dendam barangkali, netizen itu. Ada sesuatu yang ditahan, kemudian keluar," paparnya.

"Itu berurutan sejak zaman dulu, prosesnya panjang sekali. Jadi fokusnya tidak Permadi Arya saja," jelas Ismail.

Selain itu, cuitan tentang Abu Janda kerap mengundang komentar dari banyak lembaga dan institusi.

"Banyak percakapan juga mengangkat dari Muhammadiyah, dari NU, dan dari lembaga-lembaga yang lain minta diproses," kata Ismail.

Baca juga: Terungkap, 4 Faksi Demokrat Ini Ingin AHY Diganti Moeldoko, Marzuki Alie & Anas Urbaningrum Disebut

"Jadi ini prosesnya terlokalisir di Permadi Arya," lanjutnya.

Selain itu, Abu Janda mendapat framing dari masyarakat sebagai sosok kontroversial.

Ismail menilai kebanyakan komentar warganet adalah menuntut Abu Janda segera dipolisikan.

"Ini 'kan frame membuat kontroversi, sering menyinggung. Hal ini membuat situasi enggak bagus, terutama soal tindakan keadilannya," terang Ismail.

( TribunKaltim.co / Rafan Arif Dwinanto)

Artikel ini telah tayang dengan judul Ngaku Kecewa, Gus Miftah Ungkit Masa Lalu saat Beda Pendapat dengan Abu Janda: Dia Malah Ngejek, https://wow.tribunnews.com/2021/02/02/ngaku-kecewa-gus-miftah-ungkit-masa-lalu-saat-beda-pendapat-dengan-abu-janda-dia-malah-ngejek?page=all.

Sumber: TribunWow.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved