Breaking News:

Berita Kutim Terkini

Olsabara Dikenal sebagai Pusat Penjualan Cenderamata Asli Kutai Timur, Gandeng Ratusan UKM

Kendala terbesar yang dialami Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk sampai ke tangan konsumen adalah tahapan promosi serta pemasaran.

Penulis: Syifaul Mirfaqo | Editor: Rahmad Taufiq
TRIBUNKALTIM.CO/SYIFAUL MIRFAQO
Olsabara tempat membeli cenderamata khas lokal. Produk yang dijual dibuat langsung oleh tangan-tangan masyarakat Kutai Timur. TRIBUNKALTIM.CO/SYIFAUL MIRFAQO 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA- Kendala terbesar yang dialami Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk sampai ke tangan konsumen adalah tahapan promosi serta pemasaran.

Harus ada wadah terpusat di wilayah padat permukiman yang menaungi berbagai macam produk UKM untuk dipasarkan.

Olsabara hadir menggandeng 150 UKM yang terfokus menciptakan produk khas lokal Kutai Timur dalam bentuk cenderamata.

Baca juga: Masniar Penggagas Batik Motif Telapak Tangan Purbakala Sangkulirang Kutim, Bermula dari Tidak Suka

Baca juga: Dorong PAD Lewat Sektor Perikanan di Sangatta Selatan Kutim, Sertifikasi Nelayan Jadi Kendala

Tempat penjualan pernak pernik otentik Kutai Timur tersebut berlokasi di Town Hall, Jalan dr. Sutomo, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur.

Terdapat makanan, kerajinan tangan, pakaian, perhiasan, olahan daur ulang, hingga senjata tradisional mandau.

Menurut Divisi Marketing Olsabara Christine Eka, cenderamata kelas premium yang paling diminati wisatawan sekaligus menjadi salah satu ikon Kutai Timur adalah kain batik wakaroros.

"Kain ini kita datangkan dari empat UKM di Kutai Timur. Tiga dari kecamatan Sangatta Utara, dan satu dari Rantau Pulung," ujarnya, Jumat (12/3/2021).

Selain kain batik, terdapat 10 produk berjenis makanan yang menjadi produk dengan penjualan terbanyak, di antaranya amplang batubara pinang yang pewarnaannya menggunakan tinta cumi, dan amplang bulan Bengalon yang sudah banyak dikenal wisatawan.

"Biasanya kalau ada orang datang ke sini, yang dicari itu amplang batubara atau amplang bulan. Ini stoknya cepat habis," ucap Christine.

Ia mengaku, Olsabara harus rutin menyetok produk makanan khas sebab peminatnya tidak hanya dari Kutai Timur, bahkan hingga keluar daerah.

Selama pandemi, Olsabara turut mengalami penurunan omzet sehingga harus ikut berinovasi dengan menjual produknya melalui e-commerce.

Ada harapan besar yang dibawa oleh Olsabara dalam memajukan UKM lokal.

Meskipun Kutai Timur belum dikenal melalui pariwisata, setidaknya tamu yang berkunjung dapat mengenang Kutai Timur melalui cenderamatanya.

Penulis: Syifa'ul Mirfaqo | Editor: Rahmad Taufiq

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved