Breaking News
Senin, 20 April 2026

Berita Nasional Terkini

Ke Karni Ilyas, Refly Harun Bocorkan Mudahnya Jadi Presiden 3 Periode, Penolak dari Pembantu Jokowi

Ke Karni Ilyas, Refly Harun bocorkan mudahnya jadi presiden 3 periode, penolak dari pembantu Jokowi sendiri

Editor: Rafan Arif Dwinanto
Capture YouTube Refly Harun
Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun 

TRIBUNKALTIM.CO - Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun bersama Karni Ilyas mengulas peluang Joko Widodo ( Jokowi) menjadi presiden 3 periode.

Menurut Refly Harun, peluang Jokowi menjabat lagi terbuka lebar, karena mudah melakukan amandemen UUD 1945.

Namun, potensi penolakan juga bisa datang dari lingkaran Jokowi sendiri yang juga ngebet ingin menjadi Capres dan Cawapres.

Diketahui, wacana presiden 3 periode ini dihembuskan politikus senior Amien Rais.

Pakar hukum tata negara Refly Harun menilai wacana jabatan presiden 3 periode di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo tetap bisa akan terjadi.

Ada faktor yang disebutkan Refly, di antaranya orang-orang di sekitar Jokowi.

Baca juga: Di Mata Najwa, Arief Poyuono Sebut 85 Persen Rakyat Indonesia Setuju Jokowi 3 Periode, Najwa Kaget

Baca juga: Fahri Hamzah & Mahfud MD Sependapat, Soal Presiden 3 Periode Ada yang Cari Muka dan Menjilat Jokowi

"Pak Jokowi nya enggak mikir begitu (jabatan 3 periode), tapi orang-orang di seputar kekuasaan, tidak termasuk Bung Fadjroel tentunya," kata Refly Harun dalam kanal Youtube Karni Ilyas Club, seperti dikutip Tribun, Sabtu (20/3/2021).

Dia mencontohkan bagaimana Soekarno dipilih sebagai presiden seumur hidup oleh dua kekuatan besar di Indonesia saat itu, yakni Angkatan Darat, PKI, dan lain sebagainya.

"Bung Karno dianggap sebagai solusi sebagai balance of power.

Maka itu kekuatan yang berkelahi ini enggak mau berhadapan, akhirnya ya sudahlah, daripada cakar-cakaran, jadikan Bung Karno presiden seumur hidup dan kita tetap di lingkar elite kekuasaan," tambah Refly Harun.

Godaan tersebut, dikatakan Refly, yang akan mengubah premis awalnya.

"Saya sih tidak mau, tapi saya tunduk pada kemauan rakyat. Itu kan susah," katanya.

Meski demikian, Refly mengatakan belum ada sejarahnya perubahan konstitusi di masa damai.

"Di atas kertas, perubahan konstitusi dilakukan karena Presiden Jokowi sudah menguasai lebih dari separuh suara MPR.

Padahal untuk mengubah separuh plus satu, sidang dua per tiga gampang tinggal panggil anggota DPD. Usulan gampang karena dia punya koalisi," ujarnya.

Akan tetapi, Refly Harun meyakini di lingkaran istana juga terjadi persaingan antara sejumlah nama petinggi pemerintahan yang juga petinggi partai.

"Apa mau Gerindra tiga periode Jokowi, padahal Pak Prabowo barangkali sudah kebelet mencalonkan diri lagi dan menganggap tidak akan ada saingannya.

Karena saingan utamanya sudah tak bisa nyalon," tambahnya.

Sementara itu, Refly Harun mengatakan Nasdem juga sudah bersiap mengusung Anies Baswedan berusaha menawarkan Airlangga Hartarto untuk berkoalisi dan mendampingi Anies.

"Tapi Airlangga tidak mau call rendah. Dia safari ke partai politik dan rapimnasnya menetapkan dia sebagai calon presiden," katanya.

"Baru-baru ini, Puan Maharani-Moeldoko.

Jadi dari sisi yang seperti ini tidak aakan gampang walaupun on the paper menguasai politik," kata Refly Harun.

Baca juga: Arief Poyuono Dukung Presiden 3 Periode, Eks Waketum Gerindra Bocorkan Rakyat Masih Perlu Jokowi

Arief Poyuono Yakin 85 Persen

Arief Poyuono mengatakan jabatan presiden selama 2 periode itu kurang.

Arief Poyuono mempertanyakan keputusan Tap MPR yang dulu menetapkan masa jabatan presiden dan wakil presiden maksimal hanya dua periode, seperti yang ditayangkan di Mata Najwa yang dilansir dari TribunJateng.

Arief Poyuono menyayangkan keputusan Indonesia terlalu mengikuti konstitusi Amerika Serikat.

Padahal menurutnya, konstelasi politik di Indonesia sangat berbeda.

"Saya enggak tahu deh, dulu anggota-anggota DPR yang buat dua periode itu mikir enggak sih kalau dua periode diterapkan di Indonesia dengan landscape politik yang berbeda dengan Amerika, budaya politik yang berbeda, punya dampak terhadap perekonomian di Indonesia," ujar Arief Poyuono.

Najwa Shihab lalu terpancing untuk menyanyakan sola kinerja Presiden dan Wakil Presiden.

"Sepuluh tahun kurang untuk membangun?" tanya Najwa.

Arief Poyuono lalu tegas mengatakan kurang.

Ia menjelaskan Indonesia memiliki peta politik yang beragam dan jumlah partai yang cukup banyak.

Terlebih menurutnya, peta politik di Indonesia cepat sekali berubah-ubah.

"Kurang, karena berbeda. Dua periode yang kita copy paste itu lebih dekat dengan konstitusinya Amerika. Amerika cuma dua partai, Indonesia partainya berkarung-karung," kata Arief.

Ia bahkan menyebut aturan masa jabatan dua periode itu sangat kurang, terlebih melihat dampak ekonominya.

Arief menyebut contoh pada masa reformasi yang terjadi bukannya industrialisasi, tetapi deindustrialisasi.

Arief Poyuono menegaskan banyak sekali investor yang takut melakukan investasi jangka panjang karena kemungkinan kebijakan pemerintah bisa berubah dalam kurun waktu 10 tahun.

Mata Najwa: Gaduh 3 Periode
Mata Najwa: Gaduh 3 Periode (YouTube Mata Najwa)

"Seberapa Anda yakin pandangan Anda disetujui banyak orang jika presiden Jokowi 3 periode?" tanya Najwa.

Arief Poyuono mengatakan ia yakn 85 persen masyarakat Indonesia mendukung.

"Kalau untuk hari ini, saya meyakini 85 persen rakyat Indonesia setuju kalau tiga periode," tegas Arief.

Jawaban Arief Poyuono itu sontak membuat Najwa Shihab terkejut.

"Yakin sekali Anda 85 persen?" tanya Najwa Shihab tampak melongo.

Baca juga: TERKUAK FAKTA Baru Wacana Masa Jabatan Presiden 3 Periode? Serunya Tema Mata Najwa Trans7 Terbaru

Arief Poyuono mengatakan 3 periode itu hanya 15 tahun dan bukan berarti selama-lamanya.

"Tiga periode itu 'kan artinya bukan selama-lamanya," jelas Arief Poyuono.

Arief Poyuono mengatakan keberhasilan Pak Jokowi di masa pandemi dalam menangani covid-19 membuat masyarakat semakin yakin untuk dipimpin Jokowi 3 periode.

(*)

Berita tentang Jokowi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved