Breaking News:

Berita Kutim Terkini

Atap Penjual Ikan di Pasar Induk Sangatta Utara Rusak Parah, Bupati Kutim Minta CSR Turun Tangan

Pedagang komoditas ikan di Pasar Induk Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur mengeluhkan rembesan air yang jatuh pada saat hujan.

TRIBUNKALTIM.CO, SYIFA'UL MIRFAQO
Kondisi atap yang berkarat dan bolong di kawasan penjual ikan di Pasar Induk Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur. TRIBUNKALTIM.CO, SYIFA'UL MIRFAQO 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Pedagang komoditas ikan di Pasar Induk Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur mengeluhkan rembesan air yang jatuh pada saat hujan.

Hal tersebut karena kondisi atap bangunan kawasan penjual ikan memprihatinkan.

Seng yang menutupi bangunan sudah berkarat dan bolong sehingga tidak bisa lagi menghalau air hujan ataupun terik matahari yang tembus di sela-sela lubang.

Jain, salah satu pedagang ikan, secara swadaya menutupi lapaknya berjualan menggunakan terpal berwarna biru.

"Sudah lama, lebih dari satu tahun rusaknya," ujarnya saat diwawancarai tim tribunkaltim, Minggu (2/5/2021).

Baca juga: Harga Mayoritas Sembako di Pasar Induk Sangatta Masih Stabil, Hanya Bawang Putih yang Naik Rp 2.000

Baca juga: Sempat Rp 120.000 per Kg, Harga Cabai di Pasar Induk Sangatta Utara Kutim Mulai Turun

Ia khawatir air hujan dan terik matahari yang masuk, bisa merusak kualitas ikan yang dijajakan.

Oleh karenanya, apabila cuaca sedang buruk, tak jarang pedagang ikan mengakali dengan menutupi dagangannya menggunakan plastik seadanya.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyoroti persoalan rusaknya salah satu atap bangunan di pasar induk ini.

Menurutnya, rusaknya atap tidak hanya mengganggu aktivitas perdagangan melainkan juga bisa menyebabkan konsleting listrik.

"Bahayanya itu nanti ketika mengganggu arus pendek," ujarnya.

Selain itu, orang nomor satu di Kutim itu juga menduga bahwa uap asin yang berasal dari ikan bersifat korosif sehingga menyebabkan atap cepat berkarat.

Baca juga: Abaikan Instruksi Gubernur Isran Noor, Pasar Induk Sangatta Utara Tetap Buka Tapi Sepi Pengunjung

Permasalahan atap ini bersifat mendesak sehingga Ardiansyah harus mencari cara agar perbaikan dapat segera terlaksana.

Ia pun berharap agar Corporate Social Responsibility (CSR) yang berasal dari perusahaan swasta bisa membantu perbaikan atap tersebut.

Pemanfaatan CSR ini bukan tanpa alasan.

Ardiansyah khawatir apabila perbaikan menggunakan ABPD tentu pengerjaan akan cukup lama agar bisa terlaksana.

"Mungkin nanti mudah-mudahan CSR bisa membantu, karena ini mendesak sekali," ujarnya.

Nilai yang dibutuhkan untuk memperbaiki atap bangunan tersebut juga diperkirakan kurang lebih mencapai Rp 200 Juta.

Demi menyegerakan perbaikan, Ardiansyah menarget dalam waktu 3 hingga 4 bulan ke depan atap di bangunan tersebut bisa diperbaiki sehingga pedagang bisa berjualan dengan tenang.

"Mudah-mudahan 3 sampai 4 bulan sudah bisa diperbaiki," tuturnya.

Berita tentang Kutai Timur

Penulis: Syifa'ul Mirfaqo | Editor: Mathias Masan Ola

Penulis: Syifaul Mirfaqo
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved