Breaking News:

Wawancara Eksklusif

WAWANCARA EKSKLUSIF-Direktur BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid, Jangan Follow Ustaz Berpaham Radikal

Ahmad mengatakan radikalisme banyak menjangkiti mereka yang berusia 20 sampai 39 tahun karena beberapa faktor

tribunnews
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid, bersama jajaran manajemen Tribun Network 

Tiga strategi besar tadi yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia atau BNPT.

Tapi ini tidak bisa dilakukan secara sendiri. Jadi penanggulangan radikalisme dan terorisme tidak hanya bisa dilakukan oleh institusi negara atau pemerintah.

BNPT hanya melakukan fungsi koordinasi dengan melibatkan segenap elemen masyarakat dengan bekerja sama dan berkoordinasi dengan lembaga terkait.

Jadi radikalisme terorisme ini harus menjadi common enemy. Harus menjadi musuh kita bersama. Jadi kita semua harus aware, peduli, kita jangan sampai kalah militan dengan mereka.

Radikalisme dan terorisme mengatasnamakan agama bukan monopoli satu agama tapi ada di setiap agama, sekte, suku, bahkan potensial ada di setiap individu manusia. Tidak terikat jabatan, pangkat, latar belakang, suku, bangsa, kadar jntelektualitas seseorang.

Radikalis terorisme mengatasnamakan Islam fitnah bagi Islam. Kenapa? Karena sikap, tindakan, perilaku, perbuatannya bertentangan dengan prinsip dan nilai Islam yang rahmatan lil alamin yang mewajibkan toleran, penuh kasih sayang, penuh kedamaian.

Kemudian memecah belah imat Islam dan menimbulkan Islamophobia. Dan ini kalah dibiarkan bisa beekembang menjadi konflik bangsa.

Kenapa? Karena seluruh negeri konflik, seperti di Suriah, Irak, Libya, Somalia kalau di Afrika, Asia Tengah, pokoknya negeri yang sekarang sedang konflik selalu didahului dengan fenomena maraknya masifnya radikalisme terorisme yang biasanya beroklaborasi dengan oposisi ya terjadilan konflik seperti itu. Jangan sampai terjadi di Indonesia. Ini harus menjadi kewaspadaan kita semua.

Seberapa banyak temuan BNPT sekarang bahwa mereka menggunakan kemajuan teknologi?

Kalau kita berbicara ke tingkat atau sasaran keterpaparan memang paling banyak milenial. Para lembaga survei kan membagi, ada generasi Z, itu sekitar 14-19 tahun.

Generasi milenial itu umur 20-39 tahun. Kemudian generasi X umur 40-55. Jadi memang yang paling rentan, yang paling banyak terpapar adalah generasi Z dan Milenial. Terutama milenial karena 20 sampai 39 tahun.

Kenapa? Karena anak muda generasi milenial itu kan masa pertumbuhan. Tingkat kedewasaannya kan masih pembentukan. Masih mencari jati diri. Labilitas emosionalnya kan belum stabil.

Kemudian senang tantangan. Kecenderungan semangat keagamaannya kan tinggi. Ini mudah sekali keterpaparannya apalagi dengan maraknya atau fenomena dunia maya.

Apalagi tentu saja generasi milenial yang banyak menggunakan fasilitas dunia maya ini.

Apa yang harus dilakukan orang tua, pemuka agama, ustaz, atau siapapun menghadapi situasinl seperti ini kepada anak-anak, jemaah?

Strategi kami adalah dengan melibatkan dan berkoordinasi dengan lembaga terkait, ada 38 kementerian lembaga terkait.

Kemudian kami juga menguatkan dan melibatkan secara aktif dan produktif civil society moderat termasuk civitas academic.

Tentu saja dalam rangka yang belum terpapar diberikan vaksinasi dengan akhlakul karimah, karakter buildingnya dengan budj pekerti.

Dengan, kalau di agama Islam ada tassawuf, kalau di hindu mungkin semedi, kalau di nasrani mungkin ada retret dan lain sebagainya yang intinya dengan konten-konten akhlak.

Karena kalau mereka mengajarkan agama yang kaffah itu iman, Islam, jihad, atau iman, Islam, khilafah.

Padahal yang benar adalah iman, Islam, ihsan. Akhlakul karimah. Perilaku, budi pekerti, dan ini harus melibatkan tokoh-tokoh agama, ulama, termasuk orang tua dan sebagainya.

Kedua, anak-anak kita jangan boleh memfollow ustaz-ustaz yang intoleran, ustaz-ustaz yang radikal karena ustaz ini adalah pintu masuk radikalisasi tadi, pintu masuk radikalisme.

Anak muda tapi tertarik?

Biasanya begini. Indikator ustaz-ustaz yang radikal itu pertama mengajarkan intoleran.

Padahal intoleransi itu kan bagian ataupun cermin dari takfir. Saya mengatakan semu teroris yang kami tahan baik itu di Polri, lapas, BNPT itu semua berpaham salafi wahabi.

Terapi tidak semua wahabi salafi otomatis adalh teroris. Kan ada salafi wahabi yang dakwah, teman-teman saya banyak yang salafi wahabi dakwah.

Ada salafi wahabj yang takriri, yang mengikuti sistem. Ada salafi wahabi jihadis. Kombatan-kombatan atau para teroris tadj adalah salafi wahabi jihadis.

Jangan ikuti ustaz-ustaz yang mengajarkan intoleran. Yang mengedpankan hal-hal yang sifatnya mendikotomi, membenturkan antara agama dan negara, agama dan budaya, agama dan nasionalisme. Ini sudah selesai.

Jadi kalau ada ustaz yang melakukan dikotomi seperti itu, hati-hati, waspada, dan jangan diikuti karena ith sudah ustaz yang akan meradikalisasi. (Tribunnetwork/Bagian 2-Selesai)

Editor: Adhinata Kusuma
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved