Breaking News:

Berita Pemprov Kalimantan Timur

Alam dan Lingkungan Hidup Banyak Berubah, Sekda Kaltim Ajak Siaga Bersama Cegah Bencana

Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Muhammad Sa’bani mengatakan, semua perlu menyadari jika alam dan lingkungan hidup dewasa ini, sudah banyak berubah.

AHMAD RIYANDI/HUMASPROV KALTIM
HM Sa’bani saat membuka Rakortek Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Se-Kaltim. 

TRIBUNKATIM.CO - Bencana tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi.

Oleh karena itu perlu upaya bersama, antara pemerintah dengan lembaga dunia usaha dan seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama membantu meringankan beban korban akibat dari bencana.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kaltim Muhammad Sa’bani mengatakan, semua perlu menyadari jika alam dan lingkungan hidup dewasa ini, sudah banyak berubah.

Sehingga perlu adanya langkah dan upaya serius untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana, termasuk upaya penanganan pascabencana.

"Karenanya kita harus siap siaga dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan kita, khususnya dalam menghadapi berbagai bencana maupun penanganan pascabencana," kata Sa’bani saat membuka Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Se-Kaltim tahun 2021 bertemakan "Sinergitas Penanganan Pascabencana di Kaltim" di Ballroom Hotel Harris Samarinda, Kamis (20/5).

Baca juga: Stabilkan Harga dan Tingkatkan Ketersediaan Beras, Bulog Serap Produksi Petani

Sa’bani mengatakan, saat ini di beberapa kecamatan di Kabupaten Berau dan Kutai Timur dilanda banjir.

Oleh karenanya perlu perhatian semua untuk bersinergi dalam penanganan pascabencana, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

“Jadi kita tidak bisa saling menyalahkan. Apabila sudah terjadi bencana, yang kita perlukan adalah bagaimana mitigasinya, bagaimana merehabilitasinya dan bagaimana merekonstruksi agar dampak bencana betul-betul bisa kita kurangi, sehingga tidak berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat,” bebernya.

Menurutnya, kawasan-kawasan yang sering terjadi banjir, di mana genangan air terjadi sampai dua atau tiga hari, perlu diidentifikasi sumber penyebabnya.

“Kenapa air tidak mengalir dengan baik, dan kita tidak boleh menyalahkan hujan. Hujan bisa menjadi anugrah dan rahmat yang membawa kebaikan. Terpenting bagaimana mengendalikan air dengan baik, dan itu harus dicari solusinya,” tandasnya.

Selain banjir, Sa’bani juga mengingatkan seluruh kabupaten/kota untuk mewaspadai kemungkinan bencana kebakaran.

Dia menyarankan upaya-upaya mitigasi dan operasi darat apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Baca juga: Awal Juni, Gubernur Akan Resmikan Underpass dan Panen Cabai di Kutai Barat

Spot atau titik yang ditemukan berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan harus segera dilakukan pemadaman agar tidak meluas.

Ditambahkan Sa’bani, semua kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia karena tidak rapi dalam melakukan aktivitas, misalnya dalam pemanfaatan lahan, pembangunan permukiman dan perumahan.

“Tanah kosong yang seharusnya ditata, tidak ditata. Ditambah kecepatan pertumbuhan penduduk dan permukiman tidak terkendali dan tidak bisa diantisipasi dengan baik. Akibatnya air tidak bisa dikendalikan, sehingga menyebabkan banjir. Oleh karena itu perlu dilakukan antisipasi dan tindakan-tindakan sesuai koridor hukum yang berlaku,” pesan Sa’bani. (mar/sul/adv)

Editor: Diah Anggraeni
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved