Virus Corona di Tarakan
Vaksin AstraZeneca Diberikan ke Lansia Purnawirawan Kodim 0907 Tarakan
Pagi-pagi sekali, Sumarlin perempuan berusia 52 tahun ini bersiap-siap menuju Kodim 0907 Tarakan.
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Pagi-pagi sekali, Sumarlin perempuan berusia 52 tahun ini bersiap-siap menuju Kodim 0907 Tarakan. Rupanya ia sudah tak sabar menjalani vaksinasi untuk kali pertama.
Perempuan beralamat di RT 3 Kelurahan Karang Harapan, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, ini merupakan istri dari seorang purnawirawan TNI AD, Sujianto.
Pada Senin (24/5/2021) pagi ini, ia mendapatkan kesempatan menjalani vaksinasi AstraZeneca lewat kegiatan Pemberian Vaksin Covid-19 Kepada Purnawirawan, Istri Purnawirawan dan Warakawuri Kodim 0907 Tarakan.
Istri pensiunan tentara yang pernah bertugas di Kodim 0907 Tarakan ini mengakui sudah lama ingin merasakan bagaimana divaksin. Namun belum pernah mendapatkan kesempatan.
Baca Juga: 110 Vial Vaksin Covid-19 Tiba Lagi di Sangatta, Kadinkes Kutim Ajak Pelayan Publik Segera Suntik
Ia bahkan sengaja datang satu jam lebih awal dari yang dijadwalkan dalam undangan pukul 08.30 Wita.
Sambil menunggu rekannya sesama istri pensiunan TNI dan warakawuri janda TNI.
Tiba di Kodim 0907 Tarakan, ia langsung menuju meja pendaftaran. Selanjutnya menuju meja pengecekan kesehatan (screening). Di sini ia sempat ditanya petugas mengenai riwayat penyakit yang pernah dan saat ini sedang dialami.
Kata Sumarlin, kepada TribunKaltara.com hari ini, ia akhirnya bisa mewujudkan keinginannya.
Baca Juga: Berau Terima Vaksin AstraZeneca, Diberikan ke Purnawirawan dan Prajurit TNI di Kodim 0902/TRD
"Kesannya vaksinasi tadi alhamdulillah. Gak merasakan efek apa-apa. Ini memang yang paling saya harapkan dari kemarin. Kalau bisa dapat duluan karena sudah lama saya ingin divaksin," ungkap Sumarlin.
Adapun persiapan sebelum divaksin kata perempuan berhijab ini, ia sengaja sarapan dan absen puasa rutin Senin dan Kamis.
"Jadi saya sarapan tadi pagi. Hari ini gak puasa dulu. Karena setahu saya sebelum vaksin tubuh harus fit jadi sarapan dulu," ungkapnya.
Di lingkup keluarganya sampai saat ini ia dan suami belum merasakan vaksin. Begitu juga anak-anaknya. Jika ada kesempatan vaksin untuk anak, ia pasti menyarankan.
"Jadi baru berdua sama bapak ini," cetusnya.
Ini adalah vaksin dosis pertama yang dilaksanakan hari ini. Ia mengajak masyarakat untuk tak takut vaksinasi jika mendapatkan kesempatan. Karena tidak semua bisa dapat kesempatan menjalani vaksinasi.
"Selagi halal dan aman. Ini untuk mencegah Covid-19. Apalagi kalau ada yang gratis di masyarakat pasti antusias. Cuma kan kita tahu vaksinnya terbatas," ungkapnya.
Ia melanjutkan, berangkat dari kediamannya tadi pagi sekitar pukul 07.45 WITA. Sengaja datang satu jam lebih cepat agar bisa mempersiapkan diri dan fisik.
"Jadi tiba tadi saya gak buru-buru dan masih ada waktu menenangkan diri sebelum divaksin," ungkap perempuan tiga anak ini.
Kesan Setelah Divaksin AstraZeneca
Rasanya usai divaksin, kata Sumarlin, seperti disuntik pada umumnya. Tak ada kekhawatiran. Ia percaya vaksin AstraZeneca yang disuntikkan ke tubuhnya aman dan tak berbahaya.
Sebelumnya ia juga sudah sering kali googling untuk mencari informasi mengenai vaksin lansia. Ia memperoleh informasi AztraZeneca lebih cocok untuk usia di atas 40 tahun.
"Rasanya gak seperti dibayangkan.
Saya percyaa gak mungkin gak bagus dikasih ke kita. Memang setelah saya baca-baca berira, kalau jenis ini tidak cocok untuk usia 40 tahun ke bawah, justru cocoknya ke lansia," akunya.
Ia tak menampik juga membaca efek samping dari AstraZeneca. Namun ia meyakini bahwa itu hanya persoalan kondisi kesiapan fisik. Jika fisiknya sehat maka tak akan mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).
"Saya juga harus update terus informasi ini. Karena dua duanya anak saya di luar Tarakan kuliah. Saya tidak tahu harus tanya sama siapa jadi ya update lewat berita internet dan YouTube," beber istri dari Sujianto ini, yang juga merupakan pensiunan Kodim 0907 Tarakan.
Berbeda dengan Sumarlin, Suanto salah seorang purnawirawan Kodim 0907 Tarakan mengakui ia tak tahu sama sekali jenis vaksin yang disuntikkan kepadanya hari ini. Menurutnya jenis apapun itu ia percaya itu vaksin terbaik.
Pria yang sudah memasuki masa purna pada Januari 2014 lalu ini mengungkapkan, tak merasakan apa-apa usai divaksin. Padahal selama ini ia memiliki riwayat gula darah.
Namun ia yang memulai masa tugas di Kodim 0907 Tarakan pada 1997 lalu ini mengakui memang tiap hari ia rutin meminum obat gula darah dari dokter. Ia juga rutin melakukan kontrol (check up) ke dokter tiap dua minggu sekali.
"Kalau obat habis saya kontrol lagi. Dan hasilnya alhamdulillah hari ini gula darah saya dicek petugas tadi normal. Saya bisa lanjut divaksin," urai pria kelahiran 28 Oktober 1960 ini.
Ia mengakui sebelum ke lokasi vaksin, ia sarapan seperti rutinitas yang dilakukan setiap hari. Karena setiap hari minum obat, ia diwajibkan sarapan. Pria yang beralamat di RT 68 Kelurahan Karang Balik ini mengungkapkan perasaannya usai divaksin biasa saja.
"Kalau persiapan tidak ada karena sarapan itu rutin saya lakukan," ungkapnya dan menambahkan ia seblumnya mendapatkan informasi vaksinasi dari Babinsa. Kemudian ia didata dan didaftarkan untuk menjalani vaksinasi hari ini.
Ia melanjutkan selain gula darah ia juga memiliki riwayat kolesterol. Tapi lanjutnya tak begitu berbahya dan masih bisa mengikuti vaksin.
"Untuk gula darah saya memang selalu berusaha menetralisir gula setiap pagi dan malam dengan minum obat rutin," ungkapnya.
Ia juga saat melewati proses screening, sempat ditanyakan kondisi gula darah dan kolesterol serta riwayat penyakit asam lambung.
"Gula diperiksa normal, kata dokter saya siap divaksin karena kondisi tubuh saya layak untuk menjalani vaksin," lanjutnya.
Kembali ditanya media apakah mengalami kekhawatiran seperti informasi yang beredar di media sosial. Bahkan ada yang dikabarkan lumpuh.
"Sebagaimana manusia sempat khawatir awalnya. Wajar saja kalau waswas. Tapi kita serahkan semua kepada yang kuasa. Yang jelas ini kan untuk menambah kekebalan tubuh kita," urainya.
Ia juga mengatakan ini adalah anjuran pemerintah. Sehingga ketika mendapatkan kesempatan sudah sewajarnya tak melewatkan momen yang tak semua bisa merasakan divaksin.
Sedikit berbagi tips, Suanto mengakui tidur cepat semalam. Ia berharap dengan kondisi prima bisa lancar menjalani vaksinasi.
"Tapi sempat bangun jam tiga subuh dan kembali tidur lagi," ujarnya.
Sebelum bertugas di Kodim 0907 Taralan, ia bertugas di Batalyon 613 Raja Alam. Ia menghabiskan tugas dan masa purnanya di Kota Tarakan. Dukungan dari keluarga lanjutnya cukup besar. Meski hari ini sang istri ditunda divaksin karena kondisi tensi saat dicek cukup tinggi.
"Kalau dukungan dari anak memang mereka yang mendorong saya. Karena satu anak saya sudah divaksin juga. Sehingga saya yakin aman untuk divaksin. Kita ikuti apa yang terbaik dan kita tetap berdoa saja ," akunya.
Sementara itu, Komandan Kodim 0907 Tarakan, Letkol Infanteri Eko Antoni Chandra Lestianto mengatakan hari ini adalah vaksinasi serentak dilakukan se-Indonesia di masing-masing wilayah kesatuan.
Dan jenis vaksin yang disuntikkan yakni AstraZeneca. Ia juga mengakui AstraZeneca pertama kali disuntiklan di Tarakan dan untuk lansia purnawirawan, istri purnawirawan dan warakawuri janda pensiunan TNI.
Total hari ini ada 60 dosis yang disiapkan petugas. Terdiri dari 28 orang purnawirawan, 25 orang istri purnawirawan dan 19 orang cadangan yang diambil dari kelurahan terdekat.
Adapun tujuan vaksinasi lanjut Letkol Infanteri Eko Antoni Chandra Lestianto, dalam rangka mempercepat program vaksinasi nasional. Terutama kepada masyarakat.
Ini juga instruksi KSAD kepada seluruh jajaran wilayahnya melalui Panglima Kodam, untuk melaksanakan vaksinasi kepada seluruh purnawiranan dan istri purnawirawan serta warakawuri.
"Kami menindaklanjuti instruksi Pak Panglima. Tujuannya semakin banyak divaksin semakin cepat keluar dari situasi pandemi ini," bebernya.
Ia melanjutkan, purnawirawan dan warakawuri ini masuk kelompok rentan atau kategori lansia. Untuk itu diperlukan langkah cepat untuk memberikan vaksinasi kepada lansia agar tidak terpapar. Dan lanjutnya jika terpapar tidak akan merasakan dampak berat.
Tercatat untuk total purnawirawan saat ini sekitar 134 orang yang sudah habis masa tugasnya. Rerata mereka berumur paling muda sekitar 58 tahun dan yang tertua di umur 74 tahun.
"Kita awali hari ini 60 dosis dulu. Selanjutnya akan diakomodir yang belum mendapatkan vaksin," ungkapnya.
Adapun vaksinasi dosis kedua akan dilaksanakan sekitar tiga bulan lagi. Karena AstraZeneca berbeda dengan Sinovac.
Jika Sinovac maksimal 28 hari dan minimal 14 hari, AstraZeneca harus mencapai tiga bulan baru bisa divaksin untuk dosis kedua.
Ia juga melanjutkan jenis AstraZeneca yang disuntikkan bukan menggunakan batch CTMAV547 yang ditarik sementara peredarannya karena masih harus diuji kembali.
Batch CTMAV547 ditarik kembali untuk keperluan pengujian toksisitas dan sterilitas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Sehingga mereka tidak perlu khawatir. Saya mohon doa restunya mudahan vaksinasi ini lancar dan purnawirawan ini lansia ini bisa diberikan kekebalan tubuh sehingga bisa melaksanakan aktivitas normal di tengah pandemi," ujarnya.
Jika ternyata nanti ada kasus KIPI, ia sudah menyiapkan langkah antisipasi dan penanganan secara cepat kepada mereka yang mengalami efek samping.
"Kami siapkan RSUD Tarakan untuk menangani kejadi ini. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. Tapi kita berharap tidak ada. Karena sudah disampaikan juga untuk mereka cepat melaporkan diri jika merasakan sesuatu," pungkasnya.
Penulis Andi Pausiah | Editor: Budi Susilo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/vaksinasi-massal.jpg)