Mata Najwa
Mata Najwa Malam Ini Seputar Covid-19, Najwa Shihab Kini Sorot PPKM Mikro, Jangan Tunggu Giliran
Mata Najwa malam ini seputar Covid-19, Najwa Shihab kini sorot PPKM Mikro, Jangan Tunggu Giliran
TRIBUNKALTIM.CO - Tayangan Mata Najwa kembali hadir malam ini, Rabu 30 Juni 2021.
Najwa Shihab kembali memilih isu seputar Covid-19 sebagai tema tayangan yang hadir di Trans 7, tersebut.
Kali ini, Mata Najwa akan menyorot kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Mikro.
Diketahui, Presiden Joko Widodo ( Jokowi) memilih skema PPKM Mikro menggantikan skema Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) yang diterapkan di awal pandemi.
Sebelumnya, tayangan Mata Najwa pekan lalu juga mengangkat isu seputar Virus Corona.
Yang menarik, acara pekan lalu dipandu dr Tompi, bukan Najwa Shihab.
Baca juga: Catat Tema & Jam Tayang Mata Najwa Rabu 30 Juni 2021, Sudah Seberapa Efektif PPKM Mikro di Daerahmu?
Tompi yang juga merupakan penyanyi didaulat menjadi pembawa acara dengan mewawancarai rekan sejawatnya sesama tenaga medis.
Kini, di tayangan Mata Najwa malam ini, Najwa Shihab akan mengorek seberata efektif penerapan PPKM Mikro di daerah.
Berikut unggahan lengkap di Instagram Mata Najwa
PPKM Mikro menjadi opsi yang diambil pemerintah dalam upaya meredam lonjakan kasus Covid-19.
Opsi ini dianggap dapat menekan kasus Covid-19 hingga ke tingkat desa tanpa mematikan perekonomian rakyat.
Namun begitu, kunci keberhasilan PPKM Mikro ada pada komitmen pemerintah daerah dan kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.
Bagaimana implementasi PPKM Mikro di lapangan?
Sudahkah masyarakat mematuhi protokol kesehatan dalam aktivitas keseharian mereka?
Dan bagaimana strategi pemerintah daerah dalam mengefektifkan kebijakan ini di lapangan?
#MataNajwa Jangan Tunggu Giliran, Rabu, 30 Juni 2021, live pukul 20.00 WIB di @officialtrans7
#MataNajwaJanganTungguGiliran #NarasiNewsroom #narasi #JadiPaham
14h
Fenomena Baru Covid-19 Terungkap di Mata Najwa
Tenaga kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, dr. Irandi Putra Pratomo menyebut, ada yang berbeda pada lonjakan Covid-19 saat ini.
Covid-19 kali ini disebut banyak dialami oleh pasien berusia muda.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Irandi dalam acara Mata Najwa, Rabu (23/6/2021) malam.
Sebelum lonjakan Covid-19 terjadi, pasien dengan gejala berat di ruang intensive care unit (ICU) dipenuhi oleh pasien berusia tua dengan penyakit penyerta.
Namun kali ini, Covid-19 mulai banyak ditemukan di pasien berusia muda.
"Cuman makin ke sini saya lihat usia muda dengan atau tanpa komorbid pun bisa masuk ICU," kata dr. Irandi.
Baca juga: Najwa Shihab Ditantang Jerinx SID, Disebut tak Berimbang, Tawarkan 4 Narasumber, Ada Eks Menteri
Sedangkan untuk pasien di ruang rawat biasa, pasien masih bercampur muda dan tua.
"Untuk tsunami kasus kali ini menjadi banyak pasien dengan usia muda, dengan atau tanpa komorbid," terang dr. Irandi.
"Itu yang harus kita hati-hati."
"Covid sepertinya tidak melihat usia," tegas dr. Irandi.
Pada segmen sebelumnya, dr. Irandi sempat mengungkit soal prosedur teropong paru menggunakan alat bronchoscopy yang dilakukan terhadap sejumlah pasien Covid-19.
Ia menjelaskan sekilas, prosedur tersebut dilakukan untuk melihat kondisi di dalam saluran napas.
"Tujuannya untuk satu, melihat saluran napasnya apakah ada dahak yang terkumpul," kata dr. Irandi.
Ia menambahkan, pada pasien Covid usia muda banyak ditemukan mereka yang mengalami batuk darah.
Sehingga dilakukan bronchoscopy untuk mengangkat darah di saluran pernapasan.
"Saya melihat polanya, pada tsunami kasus yang sekarang, pada usia muda, saya sering melihat pasiennya ini batuk darah," ujar dr. Irandi.
"Itu mungkin fenomena baru yang masih kita perlu dalami lagi, yang bisa kita evakuasi atau ambil darahnya melalui bronchoscopy," sambungnya.
Dokter Terpaksa Pilih Nyawa
Lewat acara Mata Najwa, Rabu (23/6/2021), dr. Irandi Putra Pratomo selaku tenaga kesehatan (nakes) di RS UI, memperlihatkan langsung bagaimana isi dari ruang ICU RS UI.
Doker Irandi menjelaskan, saking penuhnya ruang ICU, ada puluhan pasien dari ruang IGD yang seharusnya pindah ke ICU tapi jadi tertunda.
Diketahui, sampai saat ini angka kesembuhan pasien Covid-19 masih lebih tinggi dibanding angka kematiannya.
Namun, berdasarkan penjelasan dr. Irandi, butuh waktu lama bagi pasien di ruang ICU untuk sembuh dari Covid-19 sehingga menghambat pasien dari IGD yang seharusnya dipindahkan ke ICU.
Terlihat dalam ruangan ICU RS UI, nampak ada sebagian besar pasien menggunakan alat ventilator.
Dokter Irandi mengatakan, rata-rata butuh waktu dua minggu bagi pasien ICU untuk sembuh dan keluar dari ruang tersebut.
Bahkan terkadang ada kasus di mana pasien butuh waktu 3-4 minggu untuk bisa sembuh.
Dokter Irandi menyampaikan, hal ini menyebabkan ada pasien yang akhirnya meninggal di IGD sebelum sempat dipindahkan ke ICU.
Baca juga: Usai BCL, Jerinx SID Kini Serang Najwa Shihab di IG, Berikan Julukan Baru Bila Ogah Penuhi Tantangan
Karena penuhnya kapasitas ruang ICU, dr. Irandi menyebut harus benar-benar memilah-milah siapa yang paling butuh masuk ruang ICU.
"Bahasa kasarnya kita jadi milih-milih nyawa," kata dr. Irandi.
Para nakes yang berada di ruang ICU nampak semuanya memakai pakaian lengkap alat pelindung diri (APD).
Kemudian terlihat juga ada pasien yang sedang menggunakan mesin cuci darah.
Dokter Irandi menambahkan, ada pasien yang butuh dilakukan prosedur teropong paru menggunakan alat Bronchoscopy.
(*)