Breaking News:

Berita Balikpapan Terkini

Penyesuaian Tarif Pungutan Ekspor Kelapa Sawit, Juli Ini Mulai Diberlakukan

Tarif pungutan ekspor kelapa sawit berubah, 2 Juli 2021 akan mulai diterapkan.

Penulis: Bella Evanglista | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/HO
Ilsutrasi-Tarif pungutan ekspor kelapa sawit berubah, 2 Juli 2021 akan mulai diterapkan.TRIBUNKALTIM.CO/HO 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Tarif pungutan ekspor kelapa sawit berubah, 2 Juli 2021 akan mulai diterapkan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua Atas PMK Nomor 57/PMK.05/2020 tentang, Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Maka pemerintah melalui Menteri Keuangan telah menyesuaikan tarif pungutan ekspor produk kelapa sawit.

Dikutip dari laman Kemenkeu.go.id, penyesuaian ini merupakan tindak lanjut keputusan Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), yang diketuai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dengan anggota Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri ESDM, Menteri BUMN, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas.

Baca juga: Ketua DPRD Berau Madri Pani Angkat Suara soal Demo Warga Gunung Sari kepada Perusahaan Sawit

Adapun besaran tarif pungutan ekspor produk kelapa sawit tersebut, termasuk Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya, ditetapkan berdasarkan harga referensi Kementerian Perdagangan dengan cut off perhitungan pungutan tarif tersebut adalah tanggal penerbitan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).

Pengenaan tarif baru ini akan mulai diberlakukan 7 hari setelah diundangkan pada 25 Juni 2021, yaitu pada 2 Juli 2021.

Sesuai PMK Nomor 76/PMK.05/2021, batas pengenaan tarif progresif berubah yang semula pada harga CPO US$670/MT menjadi US$750/MT.

“Apabila harga CPO di bawah atau sama dengan US$750/MT, maka tarif pungutan ekspor tetap, yaitu misalnya untuk tarif produk crude adalah sebesar US$55/MT.

Selanjutnya, setiap kenaikan harga CPO sebesar US$50/MT, maka tarif pungutan ekspor naik sebesar US$20/MT untuk produk crude, dan US$16/MT untuk produk turunan sampai harga CPO mencapai US$1000. Apabila harga CPO di atas US$1000, maka tarif tetap sesuai tarif tertinggi masingmasing produk,” jelas Direktur Utama BPDPKS, Eddy Aburrachman.

Menurutnya, dasar pertimbangan penyesuaian tarif layanan pungutan ekspor ini adalah untuk meningkatkan daya saing produk kelapa sawit Indonesia di pasar internasional.

Baca juga: Tanda Tangani Nota Kesepahaman, Bupati Inginkan Perkebunan Kelapa Sawit Jadi Sektor Andalan di Paser

Perubahan ini pun dilakukan dengan tetap memperhatikan kesejahteraan petani kelapa sawit dan keberlanjutan pengembangan layanan pada program pembangunan industri sawit nasional.

Seperti perbaikan produktivitas di sektor hulu melalui peremajaan perkebunan kelapa sawit, serta penciptaan pasar domestik melalui dukungan mandatori biodiesel. (*)

Berita tentang Balikpapan

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved