Berita Kaltim Terkini

BRGM Tegaskan Rehabilitasi Kawasan Hutan Mangrove Bukan Maksud untuk Alih Fungsi Lahan Tambak

Pemerintah pusat melaksanakan program rehabilitasi bakau atau mangrove. Dengan membentuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, pemerintah kembali foku

Penulis: Jino Prayudi Kartono | Editor: Rahmad Taufiq
TANGKAP LAYAR/BRGM RI
Sekretaris BGRM RI Ayu Dewi Utari dalam kegiatan sosialisasi secara virtual, Rabu (7/7/2021). Dalam sosialisasi tersebut, ia membahas tentang rehabilitasi mangrove di Kaltim dan Kaltara. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pemerintah pusat melaksanakan program rehabilitasi bakau atau mangrove.

Dengan membentuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), pemerintah kembali fokus terhadap penghijauan di sektor pesisir.

Namun dari penuturan Sekretaris BRGM RI Ayu Dewi Utari dalam Webinar Sosialisasi Rehabilitasi Mangrove, Rabu (7/7/2021) mengatakan, sering menemukan keluhan dari masyarakat.

Salah satu keluhan masyarakat adalah takut jika lahan tambak mereka akan diambil pemerintah, jika mengikuti program rehabilitasi tersebut.

Namun ia menegaskan program ini tidak bermaksud mengambil alih fungsi lahan para petambak untuk menjadi kawasan hutan mangrove.

Baca juga: Pesisir di Kalimantan Timur dan Kaltara jadi Lahan Tambak, BRGM Ingatkan Manfaat Mangrove

Justru dengan adanya rehabilitasi ini memberikan manfaat bagi para petambak.

Tidak hanya sebagai tempat atau rumah bagi ikan ataupun kepiting yang mereka pelihara saja.

Bakau yang ditanami itu memberikan manfaat dari segi lingkungan.

Bahkan ia menilai bakau juga menyerap racun atau karbon di udara sehingga memberikan udara bersih bagi warga sekitar.

"Terutama kesadaran masyarakat back to basic atau healing forest wisata tidak hanya jalan-jalan di daerah terbuka kawasan mangrove yang bisa menyerap racun, maka ia yakin jauh lebih sehat ketimbang masyarakat perkotaan," ujarnya.

"Itu tidak benar kawasan hutan diambil alih negara, justru lebih sehat pengelolaan lebih alami dan mengurangi kebutuhan pakan anorganik yang berisiko merusak daya dukung tambak," tuturnya.

Baca juga: Jelajahi Hutan Mangrove di Kampung Teluk Semanting, Wabup Gamalis Ikut Bersantai di Spot Glamping

Namun ia mengingatkan rehabilitasi ini memakan waktu lama.

Tidak hanya satu atau dua bulan saja, namun dari bibit awal dan menjadi pohon bakau besar membutuhkan waktu lebih dari dua tahun.

Bahkan jika hutan bakau sudah lebat juga memberikan dampak bagi petambak, di sisi lainnya sebagai eco tourism bagi masyarakat luar daerah. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved