Breaking News:

Berita Kukar Terkini

Kisah Kakek RE Suhendri, Penjaga Hutan di Tengah Kota Tenggarong, Tolak Investasi Rp 10 M

Kalimantan dikenal sebagai paru-paru dunia karena hutannya. Sayang, saat ini banyak hutan telah gundul oleh kegiatan tambang dan banyak beralih fungsi

Penulis: Aris Joni | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO/ARIS JONI
RE Suhendri, pemilik dan pengelola hutan tengah kota Tenggarong. Banyak cerita tentang hutan ini. TRIBUNKALTIM.CO/ARIS JONI 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Kalimantan dikenal sebagai paru-paru dunia karena hutannya. Sayang, saat ini banyak hutan telah gundul oleh kegiatan tambang dan banyak beralih fungsi menjadi kebun sawit.

Hal itu membuat pria paruh baya bernama RE Suhendri (79), warga Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) merasa miris dan prihatin alam dan hutan Kalimantan sedikit demi sedikit mulai terkikis.

Kini, pria yang akrab disapa pak RE Suhendri memiliki lahan seluas 1,5 hektare yang dijadikannya hutan di tengah kota Tenggarong, Kabupaten Kukar yang ia rawat sejak tahun 1980an silam.

“Saya datang ke Kalimantan ini tahun 1970, dan saya beli lahan ini dulunya tahun 1980 seharga Rp 100 Ribu,” ujar pria asal Sukabumi, Jawa Barat ini.

Baca juga: Abah Suhendri Pertahankan Hutan Kota Nasionalis Agroforestry di Bukit Biru Tenggarong

Tribun pun berkesempatan berkunjung ke hutan kota milik Suhendri yang letaknya berada di pinggir jalan raya perbatasan Kelurahan Timbau dan Kelurahan Bukit Biru Kecamatan Tenggarong.

Pengunjung langsung disuguhkan pemandangan asri beberapa tanaman pepohonan dan bunga-bunga.

Di ruang tamu, pengunjung juga dilihatkan berbagai macam tulisan berkenaan kebangsaan dan nasionalisme yang ia tulis sendiri serta foto-foto Soekarno yang terpampang jelas di dinding.

Kisah berawal saat dirinya merantau ke Tenggarong, Kabupaten Kukar pada tahun 1970 dan belajar bertani pada warga setempat, setelah 10 tahun kemudian ia membeli sebidang lahan seluas 1,5 hektar yang dulunya masih seharga Rp 100 ribu.

Saat itulah Suhendri mulai menanam berbagai pohon seperti Lalu, kayu damar (Agatis), meranti, kapur, pinus, kayu putih, ulin, dan sengon. Bibit pohon agaris tersebut ia datangkan langsung dari Bogor, Jawa Barat sekita hampir 1.000 bibit.

Baca juga: Sebagai Wisata Pembelajaran, Doyo akan Ditanam di Hutan Kota Kutai Barat

Puluhan tahun berlalu, bibit yang ditanamnya sejak tahun 80an tersebut, kini sudah tinggi menjulang dan tertinggi hampir mencapai 15 meter.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved