Breaking News:

Berita Internasional Terkini

Berawal dari Keluhan Anak saat Tidur Malam, Terungkap Aksi Mengharukan Sang Nenek di Kamar Cucunya

Seorang anak selalu mengeluh bahwa tempat tidurnya sempit padahal ia tidur sendirian di kamarnya, sang ibu menangis saat lihat rekaman kamera

Editor: Doan Pardede
Via doisongphapluat
Foto Ilustrasi anak tidur. Si Anak Selalu Ngeluh Kasurnya Sempit, Padahal Tidur Sendirian, Ibu Menyesal saat Tahu Kebenarannya. 

Saat ditemui sedang berbaring di kursi kayu menunggu pembeli, nenek Mia mengaku selama kapal Pelni tak beroperasi akibat larangan mudik, pendapatannya jadi menurun drastis.

Sebelum ada kebijakan larangan mudik, nenek Mia bisa mendapat pemasukan hingga Rp 400 ribu per harinya.

Namun, kini ia hanya mendapat Rp 100-Rp 150 ribu, bahkan mirisnya Rp 70 ribu per hari.

"Ada 20 tahun sudah nenek jualan. Dari jembatan pelabuhan masih kayu lagi. Apalagi mau dikerjakan kalau tidak jualan. Kalau ada kapal masuk atau ada buruh bongkar barang, nenek jualan nasi. Tapi karena tidak ada kapal sudah, jadi hanya kopi sachet sama mie instan saja," kata nenek Mia kepada TribunKaltara.com, lalu tersenyum, Senin (10/5/2021) sore.

Nenek Mia yang sehari-harinya ditemani berjualan oleh sang anak, namun kini terpaksa sendirian, lantaran anaknya baru saja selesai melahirkan.

Meski sepi, nenek Mia tetap memilih untuk berjualan.

Pasalnya, aktivitas bongkar muat barang logistik di pelabuhan masih terus berjalan.

Bahkan, ia rela berjalan kaki sekira 300 meter dari rumah menuju tempatnya berjualan di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan.

"Nenek ke sini jalan kaki. Mana pandai naik motor nak. Kalau anak nenek sempat antar ya diantar. Tapi dia lagi istirahat karena baru habis melahirkan. Penjual hanya nenek sendiri saja. Karena kapal penumpang sementara tidak masuk. Tapi, banyak buruh di pelabuhan termasuk sopir minta nenek jualan, makanya tetap jualan. Mereka bilang indo (panggilan etnis Sulawesi untuk ibu) jualan besok," ucapnya.

Nenek Mia mengaku, dirinya juga menjual nasi bungkus untuk menambah pemasukan selama pandemi Covid-19.

Nenek Mia (67) ditemui di sela aktivitasnya membuat kopi untuk para buruh bongkar muat barang di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Senin (10/5/2021) sore. Selama pemberlakuan larangan mudik, pendapatan Nenek Mia menurun drastis. TRIBUNKALTARA.COM/FEBRIANUS FELIS
Nenek Mia (67) ditemui di sela aktivitasnya membuat kopi untuk para buruh bongkar muat barang di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Senin (10/5/2021) sore. Selama pemberlakuan larangan mudik, pendapatan Nenek Mia menurun drastis. TRIBUNKALTARA.COM/FEBRIANUS FELIS (TRIBUNKALTARA.COM/FEBRIANUS FELIS)

Meski uang hasil dagangan nasi yang ia dapatkan juga tak seberapa.

"Nasi lauk ikan bayar Rp 20 ribu per bungkus. Kalau untuk buruh pelabuhan nenek kasih Rp 15 ribu per bungkus. Kemarin ada 2 kilo nasi nenek buat, tapi satu orang saja beli. Jadi nenek bawa pulang kasih keluarga, tetangga, dan beberapa dikasih petugas pelabuhan. Kemarin hanya dapat Rp 70 ribu," ujarnya.

Saat ditanyai, alasan dirinya tak berjualan di dalam pelabuhan, nenek Mia menjawab singkat, karena takut diusir petugas.

Ia mengemukakan, untuk bisa berjualan di dalam pelabuhan, dirinya harus membayar biaya sewa sebesar Rp 15 juta per tahun.

"Tidak berani saya jualan di dalam nak. Karena sering dikejar oleh petugas. Kalau di luar sini gratis. Bahkan dulu di luar sini saja pernah digusur. Tapi ada kebijakan lagi, makanya nenek boleh jualan lagi. Habis salat Asar baru nenek pulang. Kalau ada kapal masuk, biasanya sampai tengah malam di pelabuhan," tuturnya.

Nenek dua cucu itu, menuturkan, selama dua tahun dirinya menjadi tulang punggung keluarga.

Pasalnya, suaminya yang juga seorang buruh pelabuhan saat ini terbaring lemah di kasur, akibat tulang belakangnya baru saja selesai dioperasi.

"Anak nenek empat semua sudah berkeluarga. Dan cucu ada dua orang. Suami saat ini sakit. Tulang belakangnya sempat dioperasi di Tarakan. Dokter bilang tulangnya keropos. Angkat tangannya aja sudah susah. Jadi kalau nenek lambat pulang kerja, baju kakek ya begitu aja di badan. Karena anak-anak tidak berani tukarkan bajunya, takut salah nanti," ungkapnya.

Nenek Mia mengatakan, hari ini ia baru mendapat Rp 100 ribu dari hasil jualan kopi sachet.

Dia berharap, pemerintah daerah dapat membantu pedagang kaki lima yang terkena dampak pandemi Covid-19.

"Hari ini baru dapat Rp100 ribu. Dicukup-cukupi saja nak, uangnya. Nenek tidak pernah dapat bantuan sama sekali. Kayak orang lain ada bantuan lewat kantor pos ya. Soalnya mana nenek tahu urusan seperti itu. Dulu ada dapat pembagian beras dua kali. Tapi nggak ada lagi dapat," ucapnya.(*)

Berita Internasional Terkini Lainnya

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved