Breaking News:

Pesona Borneo

Mengenang Kejayaan Kerajaan Terkaya di Hindia Belanda, Jejaknya Hadir di Museum Kesultanan Bulungan

Mengenang Kejayaan Kerajaan Terkaya di Hindia Belanda, Jejaknya Hadir di Museum Kesultanan Bulungan

TRIBUN KALTARA/MAULANA ILHAMI FAWDI
Mengenang Kejayaan Kerajaan Terkaya di Hindia Belanda, Jejaknya Hadir di Museum Kesultanan Bulungan. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Mengenang Kejayaan Kerajaan Terkaya di Hindia Belanda, Jejaknya Hadir di Museum Kesultanan Bulungan

Kesultanan Bulungan, dengan raja pertama yang telah memeluk Islam ialah Wira Amir, memerintah sejak 1731-1777 dengan gelar Sultan Amril Mukminin.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Bulungan dahulu, kini setara dengan wilayah Provinsi Kalimantan Utara hari ini.

Namun kejayaan Kesultanan Bulungan mulai redup sejak Republik Indonesia diproklamirkan.

Dimulai sejak tahun 1958, di mana saat itu status Swapraja atau Daerah Istimewa dihapuskan, yang menyebabkan Raja atau Sultan tidak lagi menjabat sebagai Kepala Daerah.

Hal tersebut diungkapkan Pemangku Sultan Bulungan, Datu Abdul Hamid saat ditemui di Museum Kesultanan Bulungan, Minggu (14/8/2021).

"Tahun 1949 kita bergabung ke Republik Indonesia, lalu tahun 1950 raja-raja diangkat, dan daerah dijadikan Swapraja. Lalu Tahun 1958 diambil alih oleh pemerintah, hilanglah raja-raja itu," kata Datu Abdul Hamid.

Bangunan Museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas, dahulu kompleks Istana Kesultanan memiliki tiga buah Istana, yang kini tidak tersisa, karena hangus dibakar pada Tragedi Bultiken 1964.
(TRIBUNKALTARA.COM / MAULANA ILHAMI FAWDI)
Bangunan Museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas, dahulu kompleks Istana Kesultanan memiliki tiga buah Istana, yang kini tidak tersisa, karena hangus dibakar pada Tragedi Bultiken 1964. (TRIBUNKALTARA.COM / MAULANA ILHAMI FAWDI) (TRIBUN KALTARA/MAULANA ILHAMI FAWDI)

"Tahun 1958 ke atas, raja atau Sultan itu sudah tidak ada apa-apanya lagi, yang tersisa hanya di Jogja saja, Solo saja juga tidak," tambahnya.

Puncaknya terjadi di Tahun 1964, saat peristiwa Bulungan Tidung Kenyah atau Bultiken terjadi, di mana tentara pada masa itu membakar seluruh komplek Istana Kesultanan Bulungan.

Dengan tuduhan, Kesultanan Bulungan mendukung Malaysia saat gerakan Ganyang Malaysia atau saat Dwikora berlangsung pada 1964-1966.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved