Virus Corona di Samarinda

Kisah Sopir Angkot di Samarinda Terdampak Covid-19, Sepi Penumpang Kini Jualan Gorengan

Sepinya penumpang pada masa pandemi Covid-19 ini membuat para sopir angkutan kota (angkot) di Kota Samarinda.

Penulis: Rita Lavenia | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA
Sudarsono (35), salah seorang sopir angkot yang beralih profesi menjadi penjual gorengan saat melayani pembeli di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur pada Senin (23/8/2021).  

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Sepinya penumpang pada masa pandemi Covid-19 ini membuat para sopir angkutan kota (angkot) di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, harus memutar otak untuk bisa melanjutkan hidup.

Seperti Sudarsono, warga di wilayah Jalan Wahid Hasyim II, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara, yang memilih putar haluan menjadi seorang penjual gorengan.

Hal itu dilakukannya karena sejak akhir 2019 lalu penumpang mulai berkurang karena masyarakat beralih ke jasa antar jemput online.

"Apalagi di 2020 Corona mulai meluas. Penumpang tambah enggak ada jadi pemasukan menurun drastis," jelasnya kepada media saat ditemui TribunKaltim.co, Senin (23/8/2021).

Baca juga: Pemkot Samarinda Terima Bantuan Penanganan Covid-19 Rp 500 Juta dari PT BBE

Kesulitan makin Ia rasakan ketika mobil angkot tuanya memerlukan perbaikan, sedangkan pemasukan pun tak ada.

"Sparepartnya mahal, ban mobil juga sudah gundul. Mau ganti uangnya tidak ada, mau jalan juga mobilnya rusak tambah tidak ada pemasukan" keluhnya.

Karena hal itulah Pria 35 tahun ini terpaksa harus menjual mobil angkot yang sudah memberinya penghidupan sejak 2006 lalu tersebut.

"Awalnya tidak ada yang mau beli karena rusak dan tua. Tapi untungnya ada pemulung besi tua yang menawar hingga laku Rp 4,5 juta," kenang Pria dua anak tersebut.

Baca juga: Update Covid-19 di Kaltim, Pemprov Genjot Perbaikan Lokasi Isoter di Balikpapan dan Samarinda

"Uang itulah yang Saya jadikan modal buat beli gerobak dan memulai usaha kecil-kecilan (gorengan)" lanjutnya.

Sudarsono melanjutkan, di awal membuka usaha gorengan yang diberi nama "Gorengan Berkah" pun tidak langsung membuahkan hasil.

Karena disebutnya pada awal-awal, hampir tidak ada gorengan miliknya yang laku.

"Tapi kita jalani dengan sabar, terus berusaha yang terbaik membangun kepercayaan pelanggan. Akhirnya setelah 3 bulan dagangan Saya mulai didatangi pembeli," kenangnya.

Baca juga: Kondisi Pandemi Covid-19 Dianggap Membaik, Walikota Samarinda Pertimbangkan Pelonggaran PPKM

Meski tidak seberapa, namun Sudarsono mengaku hasil dari menjual gorengan bisa memberikan kecukupan bagi Dirinya bersama Istri dan dua anaknya.

"Saya jualan dari pagi sampai siang. Harganya cukup Rp 1000 per gorengan karena banyak juga teman-teman angkot yang beli," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved