Breaking News:

Penanganan Banjir di Balikpapan Jadi Fokus Utama Tim Ahli Bangunan dan Gedung

Banjir merupakan salah satu permasalahan di Kota Balikpapan yang tak kunjung tuntas. Untuk itulah, Pemerintah Kota Balikpapan sangat berharap kepada

Editor: Diah Anggraeni
TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO
Pemerintah Kota Balikpapan sangat berharap kepada Tim Ahli Bangunan dan Gedung Balikpapan bisa memberikan sumbangan pemikiran dan solusi dalam mengatasi banjir yang masih menjadi momok masyarakat. 

TRIBUNKALTIM.CO - Banjir merupakan salah satu permasalahan di Kota Balikpapan yang tak kunjung tuntas.

Untuk itulah, Pemerintah Kota Balikpapan sangat berharap kepada Tim Ahli Bangunan dan Gedung Balikpapan bisa memberikan sumbangan pemikiran dan solusi dalam mengatasinya.

Baca juga: Ganti Rugi Lahan Tol Balsam Ditarget Rampung Tahun Ini, Rahmad Masud Sebut Paling Lama 3 Bulan

Ketua Tim Ahli Bangunan Gedung Balikpapan, Benny Dhanio mengatakan, banyak hal yang disampaikan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas'ud saat audiensi dengam timnya.

Salah satunya adalah bagaimana bersama DPPR bisa melaksanakan program sesuai dengan perencanaan.

"Pak Wali minta kami berpartisipasi memikirkan banyak hal tentang kota ini, tapi fokus salah satunya yang paling penting. Dia minta tolong dicarikan jalan keluar bagaimana mengatasi banjir, karena sudah lima tahun ini banjirnya itu-itu juga lokasinya, masa tidak bisa diatasi," ujar Benny Dhanio saat diwawancarai, Senin (30/8/2021).

Selain itu, pembahasan lainnya terkait penataan dan keindahan kota serta pembangunan dan perizinan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya.

Misalnya, izinnya ruko tapi dijadikan hotel atau izin bangunan dua lantai malah dibangun jadi tiga lantai.

"Tapi fokus utama masih dalam penanganan banjir dulu," kata Benny.

Adapun penanganan banjir, Benny pun menawarkan beberapa solusi.

Pertama adalah jangka pendek, menyiapkan pompa air untuk penanganan jangka menengah bisa dengan membuat bozem dan perluasan saluran drainase sebagai jalan air

"Untuk jangka panjang, bagaimana kedisplinan tata ruang. Misalnya, bukit yang mulai ramai dijadikan permukiman oleh warga agar tidak menimbulkan erosi di kemudian hari," akunya.

Baca juga: Soal Ganti Rugi Lahan Tol Balsam Seksi 1, Rahmad Masud Berharap Selesai Dalam Tiga Bulan

Benny juga tak memungkiri, kondisi itu terjadi di beberapa daerah.

Bukit-bukit mulai banyak berubah fungsi jadi permukiman warga, tak lagi menjadi tempat resapan air saat hujan.

"Ada yang bisa diperbaiki, ada yang sudah tidak bisa diperbaiki. Artinya tidak bisa diperbaiki ini bukan berarti menerima begitu saja, tapi bagaimana cara atau langkah kita yang sudah terjadi diolah agar tidak menimbulkan kerusakan yang semakin parah seperti pepatah nasi sudah jadi bubur. Tapi, bagaimana upaya kita mengolah bubur itu menjadi enak, misalnya diberi garam, gula dan bumbu lainnya," tutup Benny. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved