Berita Tarakan Terkini

Talkshow Tribun Kaltara Series: Salus Populi di Tengah Pandemi, Keselamatan Warga Hukum Tertinggi

Pada kesempatan itu, Dr Margiyono, menyampaikan materi menganai Salus Populi di Tengah Pandemi Covid-19. Ada empat komponen yang dibahas

TRIBUNKALTIM.CO/ANDI PAUSIAH
Dr Margiyono seorang pembicara dalam Talkshow Tribun Kaltara Series membahas persoalan kondisi ekonomi di Kota Tarakan. TRIBUNKALTIM.CO/ANDI PAUSIAH 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Talkshow Tribun Kaltara Series: Masyarakat Sehat, Pelaku UMKM di Kota Tarakan Bangkit yang digelar Kamis (9/9/2021) kemarin, turut menghadirkan pakar ekonomi dari kalangan akademisi.

Pada kesempatan itu, Dr Margiyono, menyampaikan materi menganai Salus Populi di Tengah Pandemi Covid-19. Ada empat komponen yang dibahas oleh pria yang saat ini aktif  sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Empat pokok bahasan yang disampaikan; 

- Pertama konsep kesehatan dan ekonomi,

- Kedua profil ekonomi dan UMKM Tarakan,

- Ketiga kendala pengembangan

- Keempat yakni strategi dan optimalisasi social culture.

Baca juga: Talk Show Tribun Kaltara Series Part 1, Walikota Tarakan Fokus Seimbangkan Penanganan Kesehatan

Baca juga: Talkshow Tribun Kaltara Series: Beralih Menuju Digital Marketing, Terapkan Prinsip ‘Bisnis Langit’

Baca juga: Talkshow Tribun Kaltara Series: Sinergitas TNI-Polri, Bantu Pemerintah Lewat Satgas dan RT Siaga

Dalam mitologi Yunani, “salus” digambarkan sebagai dewi keselamatan, kesejahteraan, kesehatan juga kemakmuran.
Diktum “Solus Populi Suprema Lex Est” dikenalkan oleh Markus Tullius Cicero, untuk menyatakan pentingnya keselamatan public di atas segalanya.

Dalam beberapa decade terakhir, istilah solus populi yakni keselamatan masyarakat adalah hukum tertinggi.
Termasuk pula apa yang saat ini tengah dilakukan Pemeritah Kota Tarakan masa pandemi.

Bagaimana menangani dan memenuhi prinsip kesehatan dan ekonomi harus seimbang.

Dari sisi kesehatan, ada upaya penambahan bed atau tempat tidur pasien. Ini salah satu bagian impelementasi pemerintah dalam hal penanganan.

Muaranya adalah terjadi peningkatan kesehatan dan nanti berdampak pada peningkatan daya tahan masyarakat terhadap produksi. Karena kesehatan masyarakat bukan hanya dikonsumsi melainkan juga diproduksi.

Baca juga: Balikpapan Disebut Kota Jasa dan Industri, Ketahanan Ekonomi Bergantung pada Tambang dan Migas

Karena itu lanjutnya, jika membandingkan pertumbuhan ekonomi Tarakan dan Kaltara secara umum, selalu berada di atas dan memiliki kekuatan ekonomi yang lebih baik.

“Karena posisinya lebih elastis dari yang lain. Sektor yang ada di Tarakan lebih elastis yaitu jasa. Karena beberapa kebijakan terkait Covid-19, dibanding beberapa tahun lalu, mengalami persoalan serius terutama di sektor transportasi dan perhotelan serta akomodasi,” jelasnya.

Mereka yang dijabarkannya adalah sektor yang cukup mengalami pukulan. Sektor perhotelan, transportasi misalnya, mengalami pertumbuhan negatif yakni di angka 10 persen.

“Kenapa perhotelan mengalami pukulan yang sangat kuat, karena ketiadaan penumpang pesawat, ketiadaan juga pada orang menginap di hotel,” ujarnya.

Jika diasumsikan dalam sehari 1.000 penumpang pesawat maka 60 persennya kemungkinan menggunakan jasa perhotelan dan hiburan.
Ia melanjutkan, dampak PPKM dan PSBB, sektor transportasi tak bergerak, maka permintaan terhadap produksi minyak misalnya akan menurun. Ini gambaran rentetan dampak dari PPKM dan PSBB itu.

Kemudian lanjutnya, pembiayaan sectoral, terjadi beberapa penimbunan daya serap sectoral. Ia mencontohkan di 2019, sektor trasportasi dan pergudangan di angka 7,66 persen dan di tahun 2020 turun di angka 5,92. Ini adalah konsekuensi karena Tarakan adalah daerah transit.

Ia melanjutkan, poin kedua mengenai profil UMKM Tarakan, dijabarkanya, didominasi sektor jasa. Kemudian input industrinya didominasi non lokal, lalu ada potensi kebocoran ekonominya tinggi. Lalu nilai tambahnya rendah, inovasinya menurun bahkan actor yang beralih menjadi pemborong proyek pemerintah.

Kalau dibandingkan modal pemerintah dan kredit perbankan, trennya terjadi peningkatan pada modal pemerintah lanjutnya. Itu terjadi sejak 2015-2016 walau terjadi fluktuasi. Persoalannya adalah penyerapan dana kredit dari perbankan mengalami penurunan.

“Dana perbankan dominan saat ini menurunkan bunga justru penyerapan dana kredit menurun. Ini menjadi persoalan,” bebernya.

Sejak Juli 2016 lalu, bunga di angka 6 persen. Lalu di 2021 bunga turun 3,5 persen. Namun justru yang terjadi teorinya terjadi anomali.

“Logikanya, ketika bunga bank menurun maka yang terjadi seharusnya penyerapan kredit meningkat. Sebaliknya bunga bank menurun malah penyerapan kreditnya sektor usaha menurun,” bebernya.

Jika dipahami secara spesifik, bisa terjadi di sektor usaha, sektor real, atau kemungkinan dari sektor keuangan itu sendiri. Karena perbankan tidak mampu menekan bunga dihadapkan persolan internal.

“Katakanlah saya menduga tingginya asset perbankan, asset gedung, perlekanpan kantor dan tenaga kerja menyerap biaya tinggi dan harus dibantu perbankan dan mengakibatkan perbankan tersandera oleh biaya yang mahal,” lanjutnya.

Karena secara teoritis, saat terjadi penetapan basis bunga menurun mestinya terjadi penurunan di sektor lain. Kemudian di sisi lainnya perbankan menghadapi gempuran dari pesaing apakah melalui koperasi simpan pinjam yang menawarkan proses mudah.

“Kalau saya petakan, bagaimana hubungan penyerapan kredit dengan pertumbuhan ekonomi, tahun 2016 penyerapan kredit kita mengalami kenaikan sampai di tahun 2018. Dan 2018 menuju 2019 meluncur menurun,” ujarnya.

Demikian juga pada pola pertumbuhan ekonomi sejak 2015 mengalami kenaikan dan puncak tertinggi di 2019. Dan di 2020 mengalami penurunan. Jika membaca data, yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi itu bukan hanya belanja pemerintah melainkan juga dari sisi sektor perbankan.

“Terutama bagaimana kredit terserap dan harga kredit yang disalurkan. Ini adalah berkaitan aktivitas ekonomo dipengaruhi daya serap perbankan,” jelasnya.

Selanjutnya ia memaparkan pola ekonomi yang terjadi di Kota Tarakan, harus didorong bergerak apakah itu dari berbagai macam pengintegrasian yang sudah dilakukan Pemkot Tarakan seperti marketplace salah satunya.

“Namun saya berharap ke depan ada sebuah improvinsasi masyarakat dan industry bagaimana menjual merek, brand, produk di Tarakan,” ujarnya.

Katakanlah seperti brand terkenal seperti KFC, Coca Cola, Mc Donals. Ia menilai Tarakan bisa dan berpotensi. Ia mencontohkan kepiting Tarakan.

“Ke depan bisa meningkatkan nilai tambah dengan upaya upaya inovasi baru. Kita sudah punya universitas di sini, yang tentu bisa berkolaborasi,” harapnya.

Sehingga lanjutnya, ada strategi yang bisa dibeberkan di antaranya strategi dan social culture “institution”. Di sini lanjutnya harus ada segmentasi dan zonasisasi aktivitas perdagangan, kemudian pendampingan dan pelatihan, lalu prioritas dan SDM lokal serta akses permodalan yang mudah dan feasible. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved