Breaking News:

Berita Tarakan Terkini

Tekanan Inflasi Turun Karena Pasokan Terjaga, Bawang Merah Masih Ikut Sumbang di Angka 0,04 Persen

Kaltara mengalami deflasi 0,37 persen. Hal Ini disebabkan kedua kota, salah satunya Kota Tarakan menjadi pantauan IHK

Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/ANDI PAUSIAH
Komoditas bawang merah masih menjadi penyumbang terjadinya inflasi.TRIBUNKALTIM.CO/ANDI PAUSIAH 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN – Kaltara mengalami deflasi 0,37 persen. Hal Ini disebabkan kedua kota, salah satunya Kota Tarakan menjadi pantauan IHK.

Kota Tarakan mengalami deflasi 0,37 persen dan Kota Tanjung Selor dengan deflasi 0,41 persen. Ini disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Tedy Arief Budiman.

Kondisi deflasi ini dilanjutkan Tedy, didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tercatat mengalami penurunan menjadi deflasi 0,82 persen dibanding Juli 2021 yang mengalami inflasi sebesar 0,11 persen.

Lebih lanjut diungkapkannya, turunnya tekanan inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau terutama disebabkan oleh terjaganya pasokan bahan makanan dari daerah pemasok di tengah, masih relatif tertahannya demand masyarakat seiring dengan masih berlangsungnya kebijakan PPKM di Kaltara.

Selain kelompok makanan, minuman dan tembakau, kelompok transportasi juga mengalami deflasi 1,53 persen lebih dalam dibanding bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 0,93 persen.

Baca juga: Jalan Rusak Bisa Jadi Pemicu Inflasi, Wabup Berharap Pusat dan Pemprov Perbaiki Ruas Kubar-Samarinda

Baca juga: Cegah Inflasi di Kaltim, Kemenko Perekonomian Minta Pemerintah Kembangkan Teknologi Digitalisasi

Baca juga: Sambut Ibu Kota Negara, Kabupaten Penajam Paser Utara akan Jadi Daerah Pencatat Inflasi Baru

Berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Provinsi Kaltara pada periode Agustus 2021 sebesar 0,94 persen atau masih berada di bawah kisaran sasaran inflasi 3,0 persen.

Tiga komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan dari kelompok makanan, minuman dan tembakau antara lain daging ayam ras di angka -0,10 persen, tomat -0,04 persen dan bayam 0,02 persen.

Sementara itu, komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan terbesar yaitu bawang merah 0,04 persen dan ikan bandeng 0,03 persen.

Tekanan inflasi Agustus 2021 untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, disebabkan oleh relatif terjaganya pasokan dari daerah penghasil di tengah belum kuatnya demand masyarakat seiring masih berlanjutnya kebijakan PPKM Level 4.

Lebih lanjut, kondisi over supply khususnya untuk komoditas cabai rawit terjadi akibat adanya panen raya di daerah sentra penghasil di Jawa Timur.

Secara bulanan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi 0,25 persen sedangkan secara tahunan kelompok tersebut memberikan andil terhadap inflasi sebesar 1,10 persen di Agustus 2021.

“Catatannya, masih terjadinya deflasi pada kelompok transportasi seiring dengan diberlakukannya perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Kalimantan Utara selama bulan Agustus 2021,” ungkap Tedy.

Baca juga: Bank Indonesia Kaltara Sebut Normalisasi Harga Komoditas Bisa Bantu Lemahkan Tekanan Inflasi

Kondisi ini lanjutnya berdampak pada penurunan mobilitas termasuk dari pergerakan masyarakat menggunakan moda transportasi penerbangan sehingga mendorong penurunan tarif angkutan udara lebih lanjut oleh maskapai penerbangan.

“Dengan demikian, secara bulanan dan tahunan, kelompok transportasi memberikan andil deflasi 0,18 persen,” sebutnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved