Breaking News:

News Video

NEWS VIDEO TNI Berikan 3000 Paket Sembako Bagi Masyarakat yang Terdampak Covid-19

Tidak hanya menggelar kegiatan vaksinasi di Universitas Mulawarman saja, TNI pun juga memberikan 3000 paket sembako. Bedanya pemberian paket sembako

Penulis: Jino Prayudi Kartono | Editor: Jonathan Roy

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Tidak hanya menggelar kegiatan vaksinasi di Universitas Mulawarman saja, TNI pun juga memberikan 3000 paket sembako. Bedanya pemberian paket sembako ini langsung didistribusikan ke masyarakat kota Samarinda yang membutuhkan.

Pemberian bantuan ini menggunakan kendaraan roda dua serta truk pengangkut dari Paldam VI Mulawarman. Bahkan pihak ojek online pun turut diikutsertakan dalam distribusi bantuan sembako tersebut.

"Kita libatkan Babinsa dan bhabinkamtibmas (polisi). Jadi mereka yang paham betul mana saja yang membutuhkan bantuan," ucap Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Heri Wiranto di halaman Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Unmul, Kamis (7/10/2021).

Bantuan tersebut dilakukan secara simbolis. Heri Wiranto pun mengibarkan bendera start sebagai tanda mulainya pembagian sembako ke masyarakat. Bahkan beberapa kendaraan TNI-POLRI pun ditambah sedikit aksesoris seperti keranjang dari anyaman bambu. Tujuannya agar dapat menampung lebih banyak sembako yang akan didistribusikan ke masyarakat.

Bahkan truk dari Detasemen Paldam VI Mulawarman juga turut dilibatkan.

Diberitakan sebelumnya Pemerintah pusat mengeluarkan Instruksi Mendagri (Inmendagri) nomor 48 tahun 2021. Dalam Inmendagri itu menyebutkan 10 Kabupaten Kota di Kalimantan Timur tidak ada dalam status PPKM level empat. Beberapa daerah sudah mendapat status PPKM level dua dan tiga.

Berdasarkan hal tersebut tentunya ada kelonggaran terkait kegiatan masyarakat. Salah satunya kegiatan belajar mengajar yang bisa dilakukan jika statusnya berada di bawah level empat.

Atas hal tersebut perkuliahan pun juga dapat dilakukan khususnya kota Samarinda. Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi menyebut kegiatan kuliah tatap muka bisa dilakukan masing-masing kampus.

Hanya saja regulasi yang dilakukan mirip dengan kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah tingkat SD sampai SMA. Syarat Kuliah Tatap muka yaitu setiap Kampus harus membatasi ruang kelas sebanyak 50 persen dari kapasitas yang ada, kemudian para dosen dan mahasiswa harus sudah divaksin terlebih dahulu. Kemudian waktu belajar di kelas pun dibatasi setengah dari biasanya dan menggunakan kurikulum darurat.

"Dipersilahkan untuk SMA dan perguruan tinggi kita evaluasi mana yang sudah siap dari lima itu," ucapnya.

Untuk itu ia meminta agar seluruh Kampus segera melakukan vaksinasi dosen dan Mahasiswa. Sehingga kegiatan perkuliahan tatap muka dapat dilaksanakan. "Kalau untuk vaksin dosen bisa ditanyakan ke rektor," ucap Hadi Mulyadi.(*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved