Breaking News:

Berita Tana Tidung Terkini

Tolak Bala, Tradisi Turun-temurun Suku Tidung di Bulan Safar

Tradisi tolak bala merupakan tradisi dari generasi ke genarasi Suku Tidung, setiap Bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender hijriah

Penulis: Risnawati | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO/RISNAWATI
Ada juga ritual Bemandi. Ritual ini dipercaya untuk menghilangkan hal-hal buruk dalam diri atau membersihkan diri dari mara bahaya. (TRIBUNKALTIM.CO/RISNAWATI) 

TRIBUNKALTIM.CO, TANA TIDUNG - Tradisi tolak bala merupakan tradisi dari generasi ke genarasi Suku Tidung, setiap Bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender hijriah

Menurut tradisi Suku Tidung, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Tidung, Jafar Sidik mengatakan, acara tolak bala ini dilaksanakan pada Rabu awal dan Rabu akhir Bulan Safar.

Orang dulu percaya, Bulan Safar merupakan bulan yang panas atau bulan penuh petaka. Sehingga dilakukan doa tolak bala setiap Bulan Safar, agar umat manusia terhindar dari mara bahaya.

Di masa pandemi Covid-19 ini, acara tolak bala di Kabupaten Tana Tidung, dilaksanakan secara sederhana.

Namun tentu, tidak mengurangi filosofi yang ada dalam tradisi tolak bala tersebut.

Baca juga: Gelar Ritual Tolak Bala di Bulan Safar, Suku Tidung Tak Lepas dari Kepercayaan Adanya Hari Naas

Baca juga: Makna Ritual Tolak Bala Khas Suku Tidung di Desa Salimbatu Bulungan dengan Sajian 1.000 Ketupat

Baca juga: Budaya Suku Tidung di Bulan Safar, Gelar Tradisi Tolak Bala

"Kita melaksanakan pembacaan risalah. Supaya masyarakat tahu mengenai histori tolak bala ini," ujar Jafar.

Selain itu, ada pula ritual Betimbang. Yang mana setiap anak yang lahir di Bulan Safar harus ditimbang.

Agar beratnya seimbang, maka diisi dengan sayuran, kayu, dan sebagainya. Jika beratnya sudah sama, barulah diangkat.

"Kalau tidak ditimbang, kepercayaan orang dulu, itu akan membahayakan diri si anak tersebut," katanya.

Selain itu, dilaksanakan Bemandi. Ritual ini dipercaya untuk menghilangkan hal-hal buruk dalam diri atau membersihkan diri dari mara bahaya.

Baca juga: Ingin Kembangkan Adat Istiadat Suku Tidung, Bupati Ibrahim Ali Sebut Perlu Ada Dewan Kesenian Daerah

"Kalau dulu itu mereka (masyarakat Suku Tidung) langsung turun ke sungai. Tapi sekarang kita tidak bisa berendam di sungai, karena sungai kita ini dalam dan arusnya deras juga. Jadi kita antisipasi dengan menyiapkan drum dan sebagainya," terangnya.

Dalam tradisi itu juga, kebiasaan masyarakat Suku Tidung membawa kue-kue zaman dulu. Seperti serabi, cucur, untuk saling bertukar kemudian dibawa pulang kembali.

Dia mengatakan, tidak ada filosofi dari bertukar makanan ini. Hal ini hanya kebiasaan masyarakat Suku Tidung, yang kemudian menjadi warisan budaya Suku Tidung.

"Yang ada filosofinya itu ketupat 7 macam. Jadi ada ketupat lepas, jadi maksudnya bala itu bisa lepas.

Ada juga ketupat burung, supaya bala yang ada sama kita itu dibawa terbang oleh burung," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved