Breaking News:

Berita Malinau Terkini

Ibu Rumah Tangga di Malinau Bisa Hasilkan Rp 3 Juta Sebulan dari Kerajinan Tangan Lokal

Produk kerajinan tangan daerah dimanfaatkan Ibu Rumah Tangga (IRT) di Malinau sebagai penghasilan tambahan selama pandemi Covid-19.

TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD SUPRI
Ibu Rumah Tangga Pengrajin Anyaman Bambu Desa Seruyung, Sumiati (Kanan), Taruni dan Agustina saat mengolah produk kerajinan tangan di Kecamatan Malinau Kota, Provinsi Kalimantan Utara, Kamis (14/10/2021). TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD SUPRI 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Produk kerajinan tangan daerah dimanfaatkan Ibu Rumah Tangga (IRT) di Malinau sebagai penghasilan tambahan selama pandemi Covid-19.

Seorang Ibu Rumah Tangga di Desa Seruyung Kecamatan Malinau Barat, Sumiati menyampaikan kerajinan tangan awalnya dilakoninya sebagai sambilan.

Di sela-sela masa istirahat setelah berladang, ia menyisihkan waktu luang menganyam produk kerajinan. Diantaranya produk anyaman bambu dimanfaatkan sebagai wadah makanan atau kotak nasi.

"Biasanya setelah atau sebelum meladang mulai menganyam. Kadang dapat 6 atau 7 pasang. Biasanya kami buatnya pagi atau sore," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Kamis (14/10/2021).

Sumiati menjelaskan, untuk produk kerajinan kotak nasi atau kerap disebut "Saip" tersebut dihargai Rp 10 ribu sepasang.

Baca juga: NEWS VIDEO Kerajinan Tangan Khas Papua di Sekitar Stadion Lukas Enembe

Baca juga: NEWS VIDEO PON XX Papua Mulai Digelar, Warga Lokal Manfaatkan untuk Promosikan Kerajinan Tangan

Baca juga: Gelisah Eksistensi Budaya Suku Dayak Lundayeh, Dorma Kisu Koleksi Kerajinan Tangan Warga Lokal

Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk menganyam produk kerajinan tangan. Saip dibentuk dari anyaman bilah bambu yang diraut tipis.

Uniknya, bilah bambu lebih enteng dianyam pada pagi atau sore hari. Sebab, jika dilakukan pada siang hari, bahan anyaman terasa lebih kaku.

"Kalau siang, atau kondisi cuaca terik, bambunya jadi keras. Jadi dianyam pada pagi atau sore. Menganyam harus sabar, tahan duduk lama dan harus teliti supaya anyamannya rapat," katanya.

Produk kerajinan tangan dari bambu tersebut biasanya ditekuni Sumiati bersama dua rekannya, Taruni dan Agustina.

Ditanya mengenai total penghasilannya, Sumiati menyampaikan hal tersebut bergantung pada jumlah produk yang dihasilkan. Berkisar di angka Rp 1 juta hingga Rp 3 juta sebulan.

Kerajinan bambu buatan tangan ibu rumah tangga tersebut umumnya dipasarkan sesuai permintaan atau pesanan.

Produk kerajinan tangan bambu, seperti topi, tampi dan kotak penyimpanan makanan tersebut dipasarkan langsung melalui Sekretariat Dekranasda Kabupaten Malinau. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved